Veere Di Wedding (2018)

Tentu gugusan pertanyaan berikut terdengar familiar: Kapan punya pacar? Kapan nikah? Susah cari pasangan? Nikah sama si A mau? Atau sama si B? Pengen deh gendong cucu. Kapan punya anak? Kok anaknya gres satu? Kapan punya momongan lagi?  Mengesalkan, tapi bagi perempuan, seluruh pertanyaan (baca: tuntutan halus) di atas memberi beban sosial lebih besar. Karena sayangnya, di kultur kita, perempuan bagai diberi “tanggal kedaluwarsa”, dan diberi panggilan tak menyenangkan yakni “perawan tua” kala tidak kunjung melangsungkan pernikahan. Veere Di Wedding dibentuk menurut semangat “girls just wanna have fun”, sehingga meski isu-isu tadi tetap dibahas, tujuan film ini cuma satu: bersenang-senang tanpa kungkungan.

Para perempuan tokoh utamanya minum-minum hingga mabuk, menari di kelab malam Thailand bersama para stripper, menghisap mariyuana, dan tentu, mengucapkan kata-kata garang semaunya. Naskah buatan Nidhi Mehra dan Mehul Suri memang enggan menjauh dari formula chick flick bertema janji nikah macam Bridesmaids (2011) atau Bachelorette (2012). Pun resolusi atas romansa maupun konflik keluarganya gampang diduga. Tapi siapa peduli? Sebab dalam dunia di mana hidup karakternya diisi kesedihan tidak terduga, kebahagiaan yang gampang diduga layak disambut hangat. Karena sekali lagi, Veere Di Wedding bukan mengenai kompleksitas atau kritik pedas, melainkan bersenang-senang, menari di atas kekangan.

Empat protagonisnya yaitu sahabat karib semenjak masa sekolah, dan masih menjalin kedekatan meski 10 tahun telah berselang, dan salah satu dari mereka, Kalindi (Kareena Kapoor) menetap di Australia. Kalindi mendapatkan pinangan kekasihnya, Rishabh (Sumeet Vyas), walau stress berat akan kegagalan janji nikah orang tuanya masih membayangi. Tapi bahkan sebelum mahligai rumah tangga resmi dijalani, Kalinda sudah dibentuk pusing oleh tetek bengek pesta perkawinan sebagaimana diminta oleh keluarga Rishabh. Saya sendiri kerap terlibat perdebatan serupa dengan orang tua, yang selalu diakhiri oleh pernyataan “sebenarnya siapa yang mau menikah?!”. Beruntung bagi Kalindi, ketiga sahabatnya setia menemani meski sama-sama menyimpan problematika pribadi.

Avni (Sonam Kapoor) yaitu pengacara perceraian yang tiap hari selalu didorong untuk segera menikah oleh ibunya. Sebagai perempuan mandiri, dikala salah satu calon dari sang ibu berkata bahwa Avni tak perlu lagi bekerja sebab aspek finansial sudah ditanggung pihak pria, sudah pasti beliau menolak. Sementara Sakshi (Swara Bhaskar), dikarenakan perilakunya yang berlawanan dengan persepsi kesopanan umum (berpakaian terbuka, merokok, pemabuk), begitu pernikahannya goyah, eksklusif diterpa gosip buruk. Karena di budaya “ketimuran” ini, kalau pasangan suami-istri terdiri dari laki-laki mapan berpakaian necis dan perempuan yang bersikap semaunya, kita tahu siapa yang disalahkan bila timbul masalah. Terakhir ada Meera (Shikha Talsania), yang mendapati tubuhnya mengembang pasca melahirkan kemudian kerepotan merawat anak. Suaminya yang berasal dari Amerika tampak santai, karena menyerupai Meera ucapkan, ia tidak terlibat dalam kerepotan sehari-hari mengurus si buah hati.

Naskah Veere Di Wedding sejatinya berantakan, melompat liar dari satu kegilaan menuju kegilaan berikutnya, di mana di tiap destinasi, protagonisnya selalu mengenakan baju-baju berbeda, yang bakal menciptakan banyak penonton perempuan iri, sedangkan penonton laki-laki melongo mengagumi kecantikan mereka. Sekali lagi, ini soal “girls just wanna have fun”. Bagaimana bisa bersenang-senang tanpa terlihat manis dalam balutan baju bagus, bukan? Masalahnya, film ini menyimpan begitu banyak konflik (keempat tokoh punya urusan masing-masing) dan titik balik, yang oleh sutradara Shashanka Ghosh (Quick Gun Murugun, Khoobsurat) coba diatasi melalui tempo cepat, penyuntingan kilat, plus penyampaian obrolan kolam senapan mesin. Ya, durasi berhasil dipadatkan hingga 125 menit, tapi dampaknya, kalimat-kalimat sulit diikuti, penyampaian fakta berpotensi terlewat, daya bunuh komedi atau sentilan-sentilan tajam pun menurun.

Kemampuan Veere Di Wedding memancing tawa bukan berasal dari naskah yang memang kurang menggigit, melainkan penampilan jajaran pemain. Kita takkan mengingat apa humornya, tapi bagaimana para cast menyampaikannya. Shikha Talsania bisa diandalkan guna melontarkan lelucon, sedangkan Kareena solid memerankan perempuan kebingungan yang likeable, dan itu cukup menciptakan kita mendukungnya mendapatkan hal terbaik. Namun ini jadi film “kepunyaan” Swara Bhaskar dan Sonam Kapoor. Swara tampil lucu nan liar, menggilas segala tatanan norma yang pasti akan menciptakan para konservatif meradang. Sonam Kapoor bagaikan Dewi yang menyerupai diciptakan Tuhan sambil tersenyum. Sesosok dewi modern yang bukan cuma mengandalkan paras ayu luar biasa, juga kekokohan, kepintaran, serta kemampuan memberkati film lewat tarian-tariannya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Veere Di Wedding (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel