The Foreigner (2017)

Sesekali waktu Jackie Chan menjamah sisi serius miliknya. Pun mengingat usianya telah menginjak 63 tahun, tak jarang kadar agresi diturunkan, setidaknya dengan stunt lebih "ramah". The Foreigner selaku pembiasaan novel The Chinaman karya Stephen Leather termasuk salah satunya, di mana ia berperan sebagai pemilik restoran Cina di London yang berusaha mencari pembunuh sang puteri. Ketimbang gebrakan agresi tanpa henti, sutradara Martin Campbell (Casino Royale, Green Lantern) bersama penulis naskah David Marconi menekankan pada drama pergolakan batin akhir murung di awal kemudian berlanjut ke thriller balas dendam berbumbu intrik politik kental konspirasi.

Terdapat semburat melankoli puitis dalam paruh pembuka dikala Quan (Jackie Chan), serupa ayah pada umumnya, bersiap melepas puterinya, Fan (Katie Leung) menuju pendewasaan: mempunyai kekasih, lulus sekolah, tinggal di daerah berbeda. Tapi siapa sangka beliau mesti melepas sang puteri selamanya tatkala ledakan bom sebagai bentuk agresi terorisme beraroma politis terjadi. Merasa abdnegara kurang cepat bertindak, Quan nekat bergerak sendiri mencari nama si pelaku. Segala hal beliau tempuh, termasuk melancarkan bahaya bagi Liam Hennessy (Pierce Brosnan), wakil menteri Irlandia Utara. 
Tentu revenge flick kerap menyimpan ambiguitas watak sebagaimana tindak balas dendam itu sendiri. Tapi agresi Quan berada di tingkat berbeda di mana demi menumpas pelaku terorisme, ia turut melaksanakan hal serupa pada Liam. Naskah Marconi sayangnya kurang tertarik mengupasnya. Selepas babak pengenalan masalah, selain dari kehampaan mata Jackie Chan yang besar lengan berkuasa memberikan murung bercampur amarah, tiada kesempatan digunakan menyusuri isi hati Quan. Filmnya justru lebih tertarik menampilkan kompleksitas lain berupa konspirasi politik pelik dalam badan IRA (Irish Republican Army).

Sesungguhnya bukan kekeliruan, terlebih Brosnan punya kapasitas lebih dari cukup sebagai mantan IRA radikal yang terjebak dilema politis, kala niat menjembatani perdamaian dengan Inggris justru dianggap wujud kelemahan bahkan pengkhianatan oleh rekan-rekannya. Belum lagi urusan langsung rumah tangganya. Namun cara The Foreigner menangani intrik rumit itu begitu dangkal. Menganut prinsip "more twist equals better", keruwetan justru filmnya ciptakan sendiri sewaktu penerapan unsur "trust no one" dibawakan terlampau berlebihan. Seluruh pihak digambarkan "bermuka dua" dalam proses "asal hubung" antar titik-titik alur.
Untungnya, meski secara kuantitas tak seberapa, formasi agresi yang melibatkan Jackie Chan menghajar lawan memakai kemampuan bela diri tangan kosong atau perabot di sekitar hingga pemakaian perangkap dari barang seadanya masih sanggup menghembuskan nyawa sepanjang durasi. Batasan fisik Chan di usia tuanya justru selaras dengan tokoh Quan si veteran Perang Vietnam yang masih menyimpan sisa kehebatan masa lalu. Sentuhan yang menimbulkan karakternya one man army menarik, lantaran meski perkasa, ia tetap insan biasa, kerap kepayahan lantaran usia, juga punya sensitivitas emosi. 

Jackie Chan, Pierce Brosnan, dan Martin Campbell. Tiga nama ini merupakan kunci penyelamat The Foreigner. Andai bukan Chan, suguhan aksinya pastilah medioker, demikian pula aspek political thriller yang terangkat berkat karisma Brosnan. Sementara pengalaman Campbell merangkai agresi bisa memberi cukup gaya serta dinamika di tiap baku hantam. Tidak mengejutkan, toh dia sempat berperan besar dua kali mengembalikan kejayaan James Bond melalui GoldenEye (1995) dan Casino Royale (2006). Tanpa ketiganya bisa saja film ini setara dengan jajaran action-thriller di rak-rak straight-to-DVD.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "The Foreigner (2017)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel