The Commuter (2018)

Sebagai whodunit, The Commuter punya destinasi yang telah nampak bahkan sebelum huruf utamanya melangkahkan kaki memasuki kereta menuju perjalanan panjang yang memaksanya berpacu dengan waktu. Kita cuma perlu memberi sedikit perhatian terhadap detail remeh sambil memasang kecurigaan. Tapi whodunit bukan melulu soal twist mengejutkan. Proses yang mengandung unsur “5W 1H” merupakan komponen penting, kalau bukan yang terpenting. Sayangnya, itu pun gagal dipenuhi oleh film kerja sama keempat Liam Neeson dan sutradara Jaume Collet-Serra ini.

Neeson memerankan Michael MacCauley, karyawan perusahaan asuransi jiwa yang rutin menaiki kereta ketika berangkat dan pulang kerja. Alhasil, ia pun mengenal beberapa orang sesama komuter, begitu pula sebaliknya. Tentu ia bukan laki-laki renta sembarangan. Michael ialah mantan polisi. Sang pemain film masih dapat diandalkan menjadi action hero. Fisiknya mungkin tak lagi prima melakoni adegan perkelahian, namun wibawanya menciptakan penonton percaya Neeson dapat melaksanakan semuanya. Malang bagi Michael, ketangguhan yang dimiliki tak kuasa menghindarkannya dari pemecatan.
Di tengah perjalanan pulang, tatkala rasa gamang alasannya mesti menceritakan pemecatan itu pada istrinya ketika tanggungan membayar iuran kuliah putera mereka sedang menghantui, Michael didatangi oleh Joanna (Vera Farmiga). Joanna mengatakan $100 ribu untuk Michael, asalkan ia bersedia menggunakan pengetahuannya perihal para komuter guna mencari sosok misterius berjulukan Prynne yang tak semestinya berada di atas kereta. Kenapa harus Michael? The Commuter mengatakan tanggapan yang sekilas masuk nalar tapi jikalau ditilik lebih lanjut, meninggalkan kejanggalan.

Kalau aku mempunyai cukup uang, akses, dan kekuasaan untuk mengendalikan pegawanegeri dan menyabotase kereta, takkan sulit melenyapkan apalagi menemukan seseorang. Tidak perlu repot-repot menempuh langkah kompleks yang peluang keberhasilannya tak seberapa. Collet-Serra terang mengidolakan Alfred Hitchcock. Sejak Unknown, filmnya melibatkan unsur teror ruang sempit, identitas rahasia, atau huruf “wrong man in the wrong place”. Di banyak sekali film tersebut Collet-Serra bekerja sama dengan penulis berlainan, kecuali Ryan Engle yang menulis The Commuter dan Non-Stop. Lalu bagaimana dapat seluruhnya menyimpan permasalahan serupa? Rasanya kalimat “jodoh tidak ke mana” memang benar adanya.
Karya sang sutradara acap kali lemah di konklusi. Seperti The Shallow, The Commuter melompat menuju titik puncak bombastis pasca menghabiskan durasi membangun misteri. Tidak keliru. Collet-Serra hendak menciptakan Hitchcockian modern yang menggabungkan misteri dan agresi dahsyat. Tapi titik puncak The Commuter, yang menerapkan CGI berkualitas medioker, urung menyimpan ketegangan. Penonton urung diajak mencicipi kecemasan layaknya sebuah momen sewaktu Michael nyaris terlindas kereta api. Adegan tersebut efektif, alasannya memberi penitikberatan akan ancaman yang dialami si tokoh, sedangkan klimaksnya lalai. 

Skenario milik Byron Willinger, Philip de Blasi, dan Ryan Engle kurang mumpuni membagi fase, kapan mesti menebar pertanyaan, kapan mesti membagi tanggapan sedikit demi sedikit. Naskahnya menggantungkan tanda tanya untuk penonton jawab tanpa mempunyai teka-teki menarik untuk memancing antusiasme mencari jawaban.  Jaume Collet-Serra terang diberkahi visi memadahi dalam hal meramu aksi. Dia hanya harus mencari pasangan penulis naskah yang tepat. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "The Commuter (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel