Thank You For Your Service (2017)

Hingga kini, PTSD (Posttraumatic Stress Disorder) masih merupakan problem yang menghantui para veteran perang. Setelah berbulan-bulan bahkan tahun bertaruh nyawa, peluru berdesing di sekitar mereka, ranjau sanggup meledak kapan saja, mendapati rekan seperjuangan tewas di depan mata, pulang bukan perkara sederhana. Kasus yang jumlahnya tidak kunjung berkurang, serta   khususnya di Amerika   perhatian minim dari pemerintah jadi alasan banyaknya film mengangkat tema tersebut. Termasuk Thank You For Your Service selaku pembiasaan buku non-fiksi berjudul sama karya David Finke, yang walau mengikuti contoh familiar, tetap punya urgensi untuk disimak.

Naskah goresan pena Jason Hall (merangkap sutradara) mengikuti pakem, membuka kisah dengan sekilas insiden yang mencederai salah satu tentara Amerika Serikat di Irak. Merasa bertanggung jawab atas insiden itu, Sersan Adam Schumann (Miles Teller) dirundung kegundahan meski telah berkumpul bersama keluarga di rumah. Masalah turut dialami dua sobat Adam, Tausolo Aieti (Beulah Koale) dan Billy Waller (Joe Cole). Tausolo yang merasa militer menyelamatkan hidupnya, terpukul kala permintaannya kembali bertugas ke Irak ditolak akhir cedera otak. Sedangkan Billy harus mendapatkan fakta sang tunangan pergi meninggalkannya. 
Dari segala sisi, Thank You For Your Service urung mengatakan presentasi baru. Bahasan kemanusiaannya berkutat di konflik familiar seputar batin karakter, pun tanpa penelusuran lebih dalam dibanding film lain bertema serupa. Sementara kritik terhadap sistem, juga lepas tangan pihak militer dalam mengurusi veteran tersaji tumpul. Kita melihat petugas yang judgemental dan lebih tertarik belanja steak online ketimbang membantu, juga pertanyaan kuisioner yang rentan mengembalikan memori traumatis. Tapi semua digantung begitu saja, nihil resolusi, tamparan keras atau setidaknya pertanyaan lebih lanjut.

Di lain pihak, ketiadaan kritik bernuansa politis membantu filmnya fokus bercerita perihal tindakan menangani veteran perang pengidap PTSD. Butuh penanganan ahli, namun Thank You For Your Service menekankan kiprah orang terdekat (istri, kekasih, sahabat) serta komunitas terkait (sesama kerabat veteran). Kuncinya di komunikasi. Kalimat "you need to talk about it" kerap diulang guna menegaskan makna. Klise memang, namun kesan formulaik satu ini sanggup diterima mengingat itulah bentuk solusi fundamental sekaligus terpenting. 
Tak seberapa berpengaruh di naskah, Hall unjuk gigi melakoni debut penyutradaraan. Selaras dengan tujuan menghargai objeknya, ia  menolak gaya melodrama. Air mata tumpah, kerapuhan membuncah, namun Hall tak menggambarkan prajurit sebagai sosok lemah. Tidak perlu momen dramatis untuk memancing emosi, cukup kesederhanaan menusuk menyerupai kala Saskia (Haley Bennett) menemukan kuisioner yang diisi Adam, dan di ketika bersamaan melihat sang suami riang bangga bermain bersama puteri mereka. Adegan ini relevan, citra sempurna target mengenai seseorang dengan tendensi bunuh diri yang dari luar tampak bahagia. Harapannya, timbul kesadaran penonton akan kondisi tersebut.

Melanjutkan performa menawan di Only the Brave, Miles Teller seutuhnya menghayati konflik mental Adam, memusatkan akting pada detail gestur-gestur kecil (misal gerakan tangan berulang) penyusun kondisi psikis tokohnya yang penuh kecemasan. Ikut mendampingi yakni Haley Bennett dengan puncak penampilan berupa tawa kecil di tengah tangis dalam adegan konseling. Respon natural Haley mengokohkan kekerabatan Adam-Saskia sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai, sekaligus menghantarkan dinamika emosi. Ada pula Beulah Koale lewat konsistensi pancaran getir dari ekspresi yang menjaga supaya penonton selalu bersimpati kepada para veteran perang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Thank You For Your Service (2017)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel