Solo: A Star Wars Story (2018)

Kalau anda ingin tahu mengapa Han begitu apatis khususnya di paruh awal A New Hope (1977), film ini akan memberi jawaban. Kalau anda ingin tahu bagaimana kekerabatan Han dan Lando bermula, dan mengapa Lando tega berkhianat di The Empire Strikes Back (1980), film ini akan memberi jawaban. Pun film ini menguatkan teori bahwa Han semestinya menembak Greedo terlebih dahulu dalam konforntasi keduanya di Tatooine. Pertanyan-pertanyaan di atas sebetulnya tak memerlukan tanggapan dan lebih baik ditinggalkan sebagai cuilan mitologi tanpa batas.  Tapi kalau—seperti saya—anda ingin mengunjungi banyak sekali planet serta makhluk gres nan unik juga petualangan mendebarkan kaya imajinasi, Solo: A Star Wars Story kemungkinan takkan memuaskan, meski mengingat hambatan produksinya, filmnya urung menjadi sampah sudah pantas disyukuri.

Bahkan corak warna filmnya pun cenderung pucat, beberapa kali malah ditambah pencahayaan minim. “Galaksi nun jauh di sana” tak pernah terlihat selesu ini. Nuansa familiar gres terpancar sewaktu kita mampir ke markas Dryden Vos (Paul Bettany) yang mewah, penuh alien, hingga penyanyi dengan mikrofon futuristik dan gaun emas. Toh semua itu cuma sejenak. Sebab mirip tertulis di narasi awal, Solo bertempat di masa kegelapan. Han (Alden Ehrenreich) pun berasal dari sebuah kawasan kumuh di Planet Corellia, bekerja sebagai pencuri sambil berharap bisa mengumpulkan uang demi memperoleh kehidupan yang lebih baik bersama cintanya, Qi’ra (Emilia Clarke). Untunglah di zaman kelam ini, filmnya masih ingat untuk menyelipkan romansa. Space opera tanpa romansa menyerupai komedi nihil lelucon.
Solo sendiri tampak sebagai film kaya ambisi. Bukan cuma space opera, unsur heist dan western, atau bisa kite sebut “space western” turut diselipkan. Dan sebagaimana formula heist, kita bisa menemukan adegan judi (permainannya disebut sabacc), yang juga berperan selaku perkenalan bagi Lando Calrissian yang diperankan Donald Glover a.k.a. Childish Gambino dengan flamboyan.  Namun sebagai heist, Solo bukanlah heist yang baik. Aksi Han bersama Tobias Beckett (Woody Harrelson) dan gengnya menjalankan beberapa misi perampokan tidak dikemas secara bergaya oleh sutradara Ron Howard (A Beautiful Mind, The Da Vinci Code, Rush), tidak pula tersusun atas rencana taktis. Pun tanpa cukup gaya dalam kemasan baku tembak, Solo juga urung menjadi western yang baik.

Skenario garapan Lawrence Kasdan (The Empire Strikes Back, Return of the Jedi, The Force Awakens) dan puteranya, Jonathan Kasdan (In the Land of Women), cukup kokoh menyusun penokohan. Seluruh protagonis kita awalnya tampak sebagai individu egosentris maupun berbahaya, sebelum akhirnya, meski sekelumit, terungkap bahwa mereka merupakan sosok dengan hati yang mempunyai orang-orang untuk dicintai: Lando dan droid miliknya, L3-37 yang amat mencuri perhatian berkat pembawaan jenaka Phoebe Waller-Bridge, percikan romansa Tobias dan Val (Thandie Newton), Chewbacca (Joonas Suotamo) dengan keluarganya, dan percintaan Han-Qi’ra. Walau hasilnya mereka tetap kriminal sekaligus penyintas di suatu masa sulit, masa di mana petualangan luar angkasa megah jarang bertempat.
Sekalinya terjadi, sesungguhnya Ron Howard dibantu sinematografi garapan Bradford Young (Arrival) sanggup mengkreasi gambar epic tatkala Han dan kawan-kawan berhadapan dengan salah satu monster terbesar di franchise Star Wars sejauh ini. Ketika hasilnya lagu tema gubahan John Williams kembali berkumandang, Solo pun sepenuhnya menjadi space opera yang dicintai jutaan penonton meski hanya untuk beberapa menit. Sisa adegan kejar-kejarannya tak sebegitu mempesona pun kurang mengeksplorasi kemampuan plus kegilaan Han selaku pilot (kecuali adegan “The Maw”). Menariknya, momen agresi jarak akrab justru tergarap apik, khususnya saling babat antara Qi’ra dan Dryden. Sebagai alumnus Game of Thrones yang tentunya familiar dengan pertarungan pedang, tak mengherankan Clarke bisa melakoninya dengan meyakinkan.

Bagi penggemar, formasi easter eggs serta cameo terang jadi hiburan tersendiri. Dan bagi penggemar, atau penonton yang tidak sama sekali aneh dengan Star Wars, tentu bisa menebak beberapa hal yang akan terjadi: kemunculan Lando, pertemuan Han dengan Chewie, maupun nasib romansa Han dengan Qi’ra. Tapi Solo berhasil mementahkan ekspektasi dikala merangkum hal-hal terduga itu melalui jalan tidak terduga. Tapi bagi sebagian besar penggemar, pertanyaan terpenting adalah, “apakah Alden tampil baik?”. Dia punya pesona. Belum sekuat Harrison Ford, tapi bisa dimaklumi mengingat Han di sini belum sematang versi Ford. Masalahnya, Han versi Alden bukan abjad paling keren (Lando) atau paling badass (Tobias). Ditambah kurang efektifnya penggarapan Howard dan pembawaan Alden terhadap momen one-liner, makin tenggelamlah sang tokoh ikonik di filmnya sendiri.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Solo: A Star Wars Story (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel