Slender Man (2018)

Slender Man yang bermula dari creepypasta bisa memancing rasa ngeri memanfaatkan ketakutan insan akan hal misterius, yang dikuatkan oleh desain tanpa wajah miliknya. Dibantu beberapa foto buram hasil editan, imajinasi kita melayang-layang, dan mitos gres pun tercipta. Permainannya, Slender: The Eight Pages, juga viral. Bukan sepenuhnya alasannya yakni menyeramkan, melainkan sebagaimana video game lain, kita selaku pemain, benci kalah. Ditambah nuansa atmosferik serta kesendirian (kita satu-satunya tokoh), semakin total adrenalin dipacu.

Sementara dalam filmnya, Slender Man yakni makhluk CGI yang bukan saja tak seram, bahkan konyol. Kesan kesendirian pun lenyap, digantikan kebisingan dari kecerewetan para tokoh utama yang sulit disukai. Hallie (Julia Goldani Telles), Wren (Joey King), Chloe (Jaz Sinclair), dan Katie (Annalise Basso) merupakan empat serangkai yang pada suatu malam, terpancing membuka situs soal ritual memanggil Slender Man dengan cara menonton video terkutuk. Seminggu berselang, efek mengerikan terjadi, mulai dari penampakan aneh, sampai kesudahannya memuncak ketika Katie menghilang.

Tersisa tiga gadis remaja, dan Hallie terang aksara utama film ini. Dia satu-satunya yang sempat penonton singgahi lingkup personalnya, mengenal anggota keluarganya. Sekilas pun gampang ditebak bahwa dialah pengisi tugas “Final Girl” yang keberadaannya bagai hukum tak tertulis di film horor. Tapi, Hallie justru paling skeptis perihal dunia mistis dibanding ketiga rekannya. Tidak peduli berapa banyak ketaknormalan ia alami, temannya menghilang dan jadi gila tanpa alasan, Hallie bersikukuh enggah terlibat, menutup mata, berharap sanggup menjalani hidup secara normal. Karakter skeptis dalam horor selalu menjadi sosok paling menyebalkan, begitu pula Hallie. Di sini kegagalan filmnya berasal. Tokoh utamanya gampang dibenci, membuat jurang besar dengan kepedulian penonton.

Pasca menonton video pemanggilan Slender Man, mereka berempat kerap bermimpi dan melihat keanehan. Konon, hal tersebut merupakan gejala hilangnya kewarasan akhir kutukan si hantu muka rata. Di tangan Sylvain White (I’ll Always Know What You Did Last Summer, The Losers) sekuen yang mewakili kegilaan tokohnya dikemas lewat surreal imageries yang mengisi secara umum dikuasai bab trailer-nya sehingga terlihat menarik. Sekuen sureal yang terlihat kolam mimpi jelek yang cantik, merupakan elemen paling menarik film ini, yang jikalau seluruhnya digabung, total takkan mencapai 2 menit lamanya. White terang berbakat membuat video klip bagi musisi gothic, tapi tidak dengan film horor.

White menganggap, semakin temaram cahaya, semakin mengerikan suatu adegan. Alhasil, secara umum dikuasai teror terjadi di tengah kegelapan. Begitu gelap, sulit mendeskripsikan insiden di atas layar. Terkadang, entah wangsit brilian dari mana, White menggunakan shaky cam tatkala suasana gelap gulita. Jump scare-nya berkutat pada Slender Man yang membisu bangun bagai laki-laki mabuk di ujung gang. Terdapat satu jump scare yang luar biasa mengagetkan. Bukan alasannya yakni eksekusinya baik—bisa disebut konyol malah—namun, campur tangan sensor yang memotong momen sensual sebelum itu, justru menambah kesan tiba-tiba pada jump scare-nya.

Bicara potong-memotong, Slender Man mestinya dipotong sekitar 60-70 menit, jadikan film pendek, yang mana lebih cocok, baik dari sisi teror maupun cerita. Alurnya menjabarkan misteri soal latar belakang legenda Slender Man yang jadi materi penyelidikan karakternya untuk mencari jalan keluar dari maut. Tapi penyelidikan itu gagal menghadirkan balasan memuaskan, pula gagal menyusun satu kesatuan mitologi. Begitu usai, pengetahuan kita wacana Slender Man takkan bertambah signifikan dibanding dikala film gres dimulai. Sementara konklusinya bagai lisan kemalasan David Birke menutup naskah secara layak, menentukan berkata “Fuck it, I’m done!” kemudian menyerah. Saya berharap ia melakukannya lebih cepat agar filmnya selesai lebih awal, alhasil saya tak perlu usang tersiksa. Karena Slender Man merupakan salah satu pengalaman menonton paling menyiksa tahun ini.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Slender Man (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel