Rompis (2018)

Di pinggir jembatan di sudut suatu kota di Belanda, Roman (Arbani Yasiz) ber-selfie bersama Wulandari (Adinda Azani). Bukan hal yang biasa Roman lakukan. “Buat dikasih lihat ke anak cucu”, begitu alasannya. Daripada tawa atau respon “Apaan sih?” yang biasa dipilih banyak film percintaan remaja, kita melihat Wulan terdiam, tersenyum canggung, sementara matanya berkaca-kaca. Saya pun demikian. Bagi remaja, kalimat itu mungkin terdengar gombal, tapi di pendengaran penonton berusia cukup umur awal, apalagi yang tengah menjalani kekerabatan jarak jauh, ucapan Roman bermakna lebih, berupa sebersit petunjuk bahwa orang yang kita cintai pun ingin menghabiskan hidup bersama hingga akhir. Lebih dalam dibanding seluruh puisi atau kalimat “Aku mencintaimu” yang tak kunjung Roman sampaikan.

Kemungkinan Roman tidak menyadari sejauh itu, tapi di situ poinnya, yaitu sebuah kejujuran ungkapan rasa. Kejujuran, serta sedikit siratan kedewasaan yang tak mengejutkan, mengingat Rompis disutradarai Monty Tiwa, sosok dibalik bermacam-macam menu romansa cukup umur macam Critical Eleven (2017) dan Test Pack: You Are My Baby (2012). Alurnya sendiri formulaik, mempunyai elemen cinta segitiga hingga latar luar negeri ketika Roman terpaksa berpisah dengan Wulan dikala harus melanjutkan kuliah di Belanda bersama sahabatnya, Samuel (Umay Shahab). Kemudian Roman bertemu sesama orang Indonesia, mahasiswi S2 berjulukan Meira (Cut Beby Tshabina) yang rahasia terpikat padanya. Situasi bertambah pelik dikala Wulan yang khawatir, mendadak tiba berkunjung.

Saya bukan pemirsa sinetronnya, yang tentu memberi imbas lebih besar bagi skrip buatan Monty Tiwa, Haqi Achmad (Ada Cinta di SMA, Sajen), dan Putri Hermansjah (co-director Raksasa dari Jogja dan Sabtu Bersama Bapak), ketimbang film versi 1980 yang dibintangi Rano Karno dan Lydia Kandou, maupun novel karya Eddy D. Iskandar. Tapi saya tebak, sinetronnya serupa suguhan remaja lain yang jamak menghiasi layar kaca. Ditambah penokohan Roman sebagai penulis puisi handal (alasan ia dipanggil “Roman Picisan” alias “Rompis”), saya makin berprasangka buruk. Rupanya, Rompis tak bergantung pada buaian puisi, yang cuma kadangkala terdengar di momen yang tepat, sebagaimana sering terjadi dalam suasana Istimewa pemancing inspirasi, menyebabkan kita pujangga dadakan. Singkatnya, masuk akal.

Banyak film remaja terasa kekanak-kanakan akhir berusaha terlampau keras terlihat dewasa. Sebaliknya, Rompis sengaja bersikap santai, tampil layaknya bocah yang gemar menarik hati dan bercanda, yang justru membuatnya terasa (lebih) dewasa. Para pembuatnya paham poin kekerabatan romantis bukan soal banjir kalimat indah namun interaksi menyenangkan. Kita melihat Roman dan Wulan saling goda, saling manja, tertawa bersama. Seringkali humor mengisi, menghadirkan tawa yang termasuk salah satu pondasi tiap hubungan. Saya turut senang (dan ingin) melihat mereka bahagia.

Tentu jajaran pemain turut berjasa. Tampil bersama sebanyak 107 episode, chemistry Arbani Yasiz-Adinda Azani mengalir lancar. Bahkan di beberapa bagian, interaksi keduanya kolam situasi faktual di luar naskah. Seperti seharusnya sepasang kekasih, mereka tampak nyaman satu sama lain. Menyenangkan pula menyaksikan gaya misterius serta "judes-tapi-mau" dari Cut Beby Tshabina, yang sekali lagi, hadir secara alamiah, tak melulu melalui tuturan verbal, juga sesekali mengandalkan gestur atau ekspresi kecil. Sedangkan Umay Shahab, yang paling banyak dibebani porsi humor, merupakan sosok pendukung yang baik. Menarik mendapati petuah paling bermakna justru keluar dari mulutnya, sewaktu Sam mengingatkan Roman wacana “memprioritaskan masa depan yang sedang bersamanya dikala itu”.

Rompis tetap menyimpan kelemahan. Alurnya terdiri atas terlalu banyak konflik-konflik pendek yang direpetisi: Roman berniat menyenangkan Wulan, Meira datang, Wulan kesal, Roman berusaha minta maaf. Sekitar 3-4 kali kondisi serupa diulang, dan lantaran teramat sering, ketika tiba di resolusi pamungkas, dampak emosinya rendah, lantaran sebelumnya, kita sudah beberapa kali hingga di titik yang sama dengan skala pertaruhan yang tak jauh beda pula. Tapi jangan khawatir. Filmnya selalu punya cara menebus kekurangannya, sebagaimana naskahnya rutin menyebar beberapa detail penjelas dalam obrolan semoga penonton yang absurd dengan sinetronnya tak tersesat.  

Setiap Meira tiba “mengganggu”, saya merasa gemas, terpancing berujar “What the hell is she doing here?! Gosh! It’s gonna get ugly!”. Sedangkan sewaktu “penyakit gamang” menyerang Roman, saya kesal dibuatnya hingga ingin masuk ke layar untuk menceramahinya. Rasanya ibarat ibu-ibu penggila sinetron yang gemar berceloteh mengomentari konflik fiktif di televisi. Artinya, tontonan itu berhasil mengikat mereka. Rompis memang dongeng cinta remaja ringan, tapi dongeng cinta remaja ringan yang langka, di mana penonton sanggup betah berlama-lama bersama karakternya, terjerat oleh permasalahan remeh namun pelik milik mereka.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Rompis (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel