Reuni Z (2018)

Berjam-jam aku memandangi halaman review yang masih putih polos alias kosong. Sambil duduk ditemani batang demi batang rokok, ingatan aku melayang kembali menuju Reuni Z, kerja sama kedua Soleh Solihun bersama Monty Tiwa di dingklik penyutradaraan sehabis Mau Kaprikornus Apa? (2017), berharap memperoleh ilham wacana paragraf pembuka. Tapi nihil. Semakin memeras otak, semakin kusut isi kepala. Mungkin aku sedang buntu. Mungkin aku penulis yang buruk. Mungkin alasannya ialah cuma sedikit hal berkesan dalam filmnya.  Reuni Z memang tidak buruk, tetapi bakal segera terlupakan. Padahal, dilupakan jauh lebih mengerikan dari dikejar zombie.

Berbeda dengan jajaran protagonis, khususnya Juhana (Soleh Solihun) dan Jeffri (Tora Sudiro) yang sulit melupakan permasalahan mereka semasa SMA. Sempat bersahabat, bahkan membentuk grup musik bersama, keduanya bertengkar di panggung, menghasilkan kekerabatan canggung yang bertahan hingga 20 tahun kemudian tatkala reuni diadakan. Ketika Juhana telah angkat nama sebagai pemain drama film murahan sekaligus bintang iklan pompa air, Jeffri tetap merasa Juhana menghancurkan mimpinya sukses di dunia musik. Jeffri sendiri sekarang menikahi Lulu (Ayushita), si mantan bassis, dan sudah dianugerahi momongan, sedangkan Juhana masih hidup seorang diri.
Ketiganya, ditambah Mastur si penggebuk drum yang telah berganti kelamin dan nama menjadi Marina (Dinda Virgo Dewi), bertemu lagi di reuni Sekolah Menengan Atas yang oleh naskah buatan Soleh bersama Agasyah Karim dan Khalid Kashogi bukan cuma dijadikan arena para zombie berburu mangsa empuk, pula memfasilitasi keberadaan ensemble cast. Dari Surya Saputra si tukang bully, Henky Solaiman si guru, Verdi Solaiman si tukang pamer, Fanny Fabriana si MC, Ence Bagus si laki-laki sok alim, Joe P Project si satpam, hingga penampilan pasangan Anjasmara dan Dian Nitami. Begitu ambisius, kisahnya berusaha membagi porsi nyaris sama rata ke setumpuk nama di atas. Waktu pun terbagi, sehingga elemen persahabatan Juhana-Jeffri yang harusnya diutamakan justru sebatas numpang lewat.

Setelah repot-repot menaruh fokus pada banyak tokoh, ketika datang waktunya janjkematian menjemput akhir serangan zombie, adegan kematian malah tersaji off-screen. Apalagi kalau bukan demi meminimalkan sadisme yang berpotensi memantik debat kusir melelahkan di tahap sensor. Dampaknya, beberapa kematian tak terduga maupun pengorbanan karakternya urung berefek. Polanya sering berulang. Salah satu tokoh terkepung pasukan zombie, sebelum adegan eksklusif berpindah tanpa mengatakan nasibnya. Bahkan sulit mengetahui apakah seseorang sudah meregang nyawa atau belum, kalau bukan alasannya ialah mereka tak muncul di momen penutup.
Poin terkuat Reuni Z, yang sejatinya juga urung dimaksimalkan, ialah komedi. Beberapa kali aku tergelak. Melanjutkan pencapaian di Hangout (2016), Dinda jadi sosok terlucu yang mencuri perhatian berkat kesediaan menanggalkan rasa aib ketika melucu. Totalitas. Masalahnya tak semua tokoh menyimpan karakteristik selucu Marina alias Mansur. Jeffri tak lebih dari laki-laki paruh baya yang sesekali bersikap bodoh. Sementara profesi Juhana sebagai pemain drama film murahan hanya dijadikan jalan semoga film ini sanggup memajang beberapa parodi poster film Indonesia klasik serta menyelipkan cameo Joko Anwar. Selebihnya, daya tarik Juhana cuma sebuah slogan yang semakin sering diulang semakin menghilang kelucuannya.

Serbuan zombie sanggup memunculkan kesan atmosferik sebagaimana Night of the Living Dead (1968), sanggup pula seru menyerupai Dawn of the Dead, baik versi Romero (1978) atau remake karya Zack Snyder (2004). Tapi kejar-kejaran dengan zombie di Reuni Z tidak menegangkan, mencekam, atau seru. Humornya pun kolam bangun sendiri, di mana mengganti zombie dengan makhluk lain, takkan mempengaruhi gaya leluconnya. Timbul beberapa pertanyaan. Bagaimana zombie mendeteksi korbannya? Mereka sanggup ditipu oleh bau, terpancing suara, tapi kadang melihat buruannya. Mereka pun sanggup tidak boleh melalui serangan di bab badan mana saja, menciptakan konklusi yang coba bermetafora bahwa mengenai kekuatan persahabatan jadi kurang berarti. Setidaknya riasan dan imbas Istimewa pada titik puncak digarap cukup baik.


Untuk ulasan versi vlog sanggup ditonton di sini:

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Reuni Z (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel