Rasuk (2018)

Jamaknya, poster berkhasiat selaku media promosi untuk menarik penonton, memberi sekilas citra mengenai konten suatu film. Tapi Rasuk, selaku produksi adonan keempat Dee Company bersama MD Pictures mengangkat esensi poster ke tingkatan lebih jauh, yakni memprediksi apa yang penonton rasakan kala menyaksikan filmnya. Jika Shandy Aulia tampak ketakutan akhir ditarik sosok-sosok misterius, saya terjerat keburukan demi keburukan Rasuk yang tak butuh waktu usang untuk memancing frustrasi. Tapi film ini patut dirayakan sebagai menandakan kembalinya Dheeraj Kalwani menuju jati dirinya sebagai KKD yang kita kenal, puja, dan sayangi bersama.

Tentu Gasing Tengkorak (2017) dan Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati Bayi Hidup Lagi Bayi Prematur Bayi Setan (2018) jelek (saya melewatkan Kembang K*nt*l), namun film garapan Ubay Fox (Valentine) ini paling mendekati mahakarya Baginda Yang Termahsyur KK Dheeraj. Adegan yang dikemas sedemikian absurd berpadu penyuntingan gambar tak kalah gaib? Ada. Hantu dengan riasan bagai bubur basi? Ada! Andai Rasuk dirilis satu dekade lalu, Alexis Texas, Lexi Belle, atau Sunny Leone mungkin bakal direkrut sebagai cameo, sementara judulnya berubah jadi Kerasukan Arwah Datang Bulan, atau semacamnya.

Rasuk yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, dibuka lewat presentasi sinematografi paling anggun sepanjang film, walau konteksnya layak dipertanyakan, dan gres dijawab menjelang akhir, itu pun tetap tak masuk akal. Tapi ini film KKD. Alangkah baiknya demi kesehatan penonton, logika serta penalaran disimpan rapat-rapat. Kala situ Langgir (Shandy Aulia) berada di atas gunung, mengenakan gaun putih anggun tanpa bantalan kaki. Awal yang menjanjikan, sayangnya Rasuk merupakan film cerita, bukan video pre-wedding. Pasca maut sang ayah, Langgir mulai membenci dunia, sebab merasa sang ibu menyalahkannya atas bencana itu. Akibatnya, Langgir senantiasa murung, bersikap ketus pada semua orang.

Semua orang kecuali Abimanyu (Miller Khan), laki-laki yang rahasia ia sukai. Di depan Abimanyu, Langgir berubah ceria, atau lebih tepatnya, Shandy Aulia kembali menjadi Tita di Eiffel...I’m In Love. Selain Abimanyu, mudah Langgir bersikap tak menyenangkan di depan orang lain. Dia membentak adik tirinya yang masih balita, menyatakan ketidaksukaan pada keluarganya, yang menurutnya dipenuhi kebencian (meski sejatinya Langgir sendirilah yang penuh rasa benci), pun kesal setengah mati kepada sahabat-sahabatnya. Kenapa? Karena bagi Langgir kehidupan mereka terlampau sempurna. Oh, dan ia eksklusif mengamuk ketika tahu Abimanyu berpacaran dengan salah satu sahabatnya, padahal sedikitpun tidak pernah ia bercerita pada mereka.

Bagaimana dapat menaruh simpati untuk Langgir, yang bukannya tokoh tertindas, melainkan gadis menyebalkan, egois, enggan bersyukur, juga bersikap pahit terhadap seala hal? Bukan berarti huruf lainnya lebih baik. Sambutlah geng “Puteri Sejagat”, empat gadis termasuk Langgir, yang mesti menghadapi lawan luar biasa berat berupa dialog-dialog dalam naskah goresan pena Alim Sudio (Dimsum Martabak, Kuntilanak), yang penuh kalimat tidak natual berisi perpaduan asal gaya kasual dan resmi, yang kolam ditulis seseorang dengan pemahaman minim perihal interaksi insan sehari-hari. Keempat protagonis kita begitu besar hati dengan nama “Puteri Sejagat”, sewaktu bertemu perempuan misterius di hutan, hal pertama yang dilakukan ialah berkenalan kemudian berkata, “kami berempat Puteri Sejagat”, dikala seharusnya mereka membaca doa sapu jagat kemudian kabur sejauh mungkin.

Alkisah, “Puteri Sejagat” ingin berlibur ke sebuah villa. Sayang seribu sayang, jembatan yang mesti dilalui putus, dan dengan begitu berani, keempatnya memasuki hutan. Bisa ditebak, mereka pun tersesat. Tapi tenang, setidaknya papan penunjuk jalan sudah menyebut villa tujuan mereka berada di Utara. Masalah timbul ketika jalan bercabang. Kompas sudah mengatakan mana arah Utara, tapi feeling salah satu anggota “Puteri Sejagat” berkata kalau Selatan ialah arah yang tepat. Mana yang kesudahannya dipilih? Tentu saja Selatan. Percayalah pada kata hatimu. Persetan dengan kompas dan papan kayu. Tahu apa benda-benda mati itu soal arah.

Luar biasa ndeso para tokoh utama kita, hingga elemen persahabatan ditambah pesan mengenai “semua punya masalah, jangan menerka dirimu paling menderita” terkubur bersama arwah penasaran, yang tiap kali muncul, disertai gebrakan efek bunyi memekakkan telinga. Bahkan tatkala hantu muka bubur busuk tak muncul menyerang “Puteri Sejagat”, indera pendengaran kita terus saja diserang tata bunyi berisik tersebut. Mungkin pembuat filmnya mengira, kalau volume ditingkatkan ke titik maksimal, penonton bakal tertipu, menerka di layar sedang terjadi sesuatu. Di sebuah kesempatan, Langgir memarahi teman-temannya sebab berteriak meminta bantuan. “Berisik!”, begitu ucapnya. Wahai Langgir, itu pula yang ingin saya sampaikan pada film ini.

Sekitar 90% kursi penonton terisi dan nyaris semua terhibur, selalu berteriak ketakutan. Kondisi ini dapat memicu anggapan, “mengapa repot-repot menciptakan film bagus kalau suguhan berkualitas rendah macam ini pun laris keras dan disukai?”. Melalui Rasuk, KKD seolah mengacungkan jari tengah kepada penonton film Indonesia yang peduli dan mengharapkan tontonan berkualitas. Tapi kalau anda tetap penasaran, saya sarankan tiba saja ke bioskop dengan tata bunyi terbaik yang menayangkan film ini. Begitu film dimulai, tidak perlu masuk, cukup duduk di samping studio. Pasang indera pendengaran baik-baik, dan anda tetap dapat mendengar gempuran-gempuran tata suaranya. Tidak perlu menyaksikan gambarnya, toh pembuatnya merasa, teror dalam horor dapat dicapai lewat gelaran musik berisik saja. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Rasuk (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel