Rampage (2018)

Tim pengaruh Istimewa dalam film- film macam King Kong (1933), Godzilla (1954), hingga Jurassic Park (1993), bertugas menghidupkan monster raksasa. Sedangkan untuk merespon makhluk rekaaan itu dengan kekaguman, ketakutan, atau terkadang kekaguman di balik ketakutan, ialah kiprah aktor. Tapi untuk bersanding sejajar dengan mereka, cuma Dwayne “The Rock” Johnson yang bisa melakukannya secara meyakinkan. Kalau ada seseorang yang sanggup menyelamatkan dunia dari kehancuran, berani terlibat pertarungan terbuka dengan (lebih dari satu) binatang raksasa, Johnson ialah orang tersebut. Sebagai bintang laga, ia bukan cuma bermodal otot, pula karisma supaya setiap makhluk menyukainya.

Saya menggunakan kata “makhluk”, alasannya ialah dalam Rampage, Johnson memerankan Davis Okoye, jago primata yang bisa menjinakkan, bahkan dekat dengan gorila albino berjulukan George. Keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, dan tak hanya saling memahami maksud, juga isi hati satu sama lain. Poin yang membawa kita menuju momen paling berperasaan sepanjang filmnya. Ya, meski hanya sejenak, Rampage mempunyai hati tatkala George memahami nasib malang Pavoo, seekor gorila gres yang kehilangan keluarganya tanggapan pemburu gelap. Ada ketakutan di sorot mata Pavoo melihat sosok gorila albino berukuran jauh lebih besar darinya, sementara di ketika bersamaan George menampakkan tenggang rasa alasannya ialah persamaan nasib.
Memberikan jiwa kepada tokoh binatang menjadikan Rampage spesial. Sewaktu sampel eksperimen belakang layar jatuh dari langit dan menimbulkan George tumbuh luar biasa cepat dan berubah lebih ganas, saya diyakinkan bahwa amukannya cuma lisan ketakutan serta kebingungan yang disalahpahami. Seperti Davis, saya tak ingin George jadi target tembak, meski sentimen serupa urung hadir untuk dua binatang lain, Ralph si serigala bersayap, dan buaya raksasa yang bagai adonan Lizzie dan Crock dari sumber adaptasinya. Pertanyaannya, bagaimana cara menggembangkan plot tipis video game yang murni cuma menyajikan kehancuran kota?

Skenario garapan empat penulis sekaligus (Ryan Engle, Carlton Cuse, Ryan J. Condal, Adam Sztykiel), yang mengubah asal muasal raksasa dari insan yang bermutasi, memang terasa kekurangan akal. Repetisi pun dipilih. Sepasukan kepetangan atau militer atau prajurit bayaran muncul guna menghentikan kekacauan, merasa jemawa, meremehkan kemampuan para monster, yang balasannya menimbulkan kegagalan mereka. Pola ini diulang beberapa kali, dengan satu-satunya sumbangsih kasatmata berupa penampilan keren Jeffrey Dean Morgan sebagai Harvey Russell, biro pemerintah yang bergaya kolam koboi modern, lengkap dengan aksen Southern dan pistol emas di pinggang.
Rampage, sebagaimana video game-nya, menjanjikan amukan monster yang menghasilkan kehancuran massal, dan Brad Peyton dalam kerja sama ketiganya bersama Dwayne Johnson pasca Journey 2: The Mysterious Island dan San Andreas memenuhi komitmen tersebut. Rampage gres habis-habisan begitu memasuki titik puncak (sesuatu yang mestinya telah kita perkirakan), tapi bukan titik puncak sambil kemudian yang berakhir prematur. Peyton menembakkan seluruh amunisi, menghancurkan semua yang bisa dihancurkan, sembari memamerkan kepiawaian menyusun intensitas melalui kejelian bermain timing. Rating PG-13 pun tak menghalangi Peyton menjaga kesesuaian film dengan esensi video game-nya yang brutal, penuh adegan monster memangsa manusia. Tunggu hingga anda menyaksikan cara Kate (Naomie Harris), ilmuwan pemrakarsa eksperimen Rampage yang bekerja sama dengan Davis, “menyembuhkan” George.

Menyajikan kehancuran total menjelang akhir, kualtias CGI-nya sendiri tak terlalu mumpuni, khususnya jikalau melihat kurang meleburnya Johnson dengan para monster ketika berada di satu frame. Namun CGI dalam Rampage memang bukan bertujuan menghasilkan pemandangan realistis. Tugas itu diemban Jurassic Park dan film-film lain yang mengutamakan “sense of wonder”. Begitu juga soal plot, yang saya yakin bakal banyak dikritisi menggunakan sebutan bodoh, dangkal, dan sebagainya. Mengharapkan kedalaman atau kecerdasan dalam alur film macam Rampage, yang semenjak awal sudah menegaskan tujuannya, bagai berharap memperoleh gizi tinggi dari makanan cepat saji. Kalau begitu siapa yang bodoh?

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Rampage (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel