Raazi (2018)

Dalam thriller spionase perihal distributor ganda, pecahan paling intens tidak pernah jauh dari perjuangan protagonis berpacu dengan waktu dan celah peluang sempit untuk menjalankan misi sambil melindungi penyamarannya. Kita tahu bahwa kemungkinan besar ia bakal berhasil, dan di lebih banyak didominasi kesempatan memang demikian hasilnya. Tapi dalam Raazi yang diangkat dari novel Calling Sehmat buatan Harinder Sikka, yang mana terinspirasi dari insiden nyata, agresi kecoh-mengecoh itu menciptakan aku mencengkeram bangku sembari menahan nafas. Begitu menegangkan hingga aku sejenak lupa kalau hasil alhasil telah diketahui. Rasanya menyerupai dibawa terjun pribadi ke tengah insiden ketika itu juga. This, ladies and gentlemen, is a high-class thriller.

Dalam film serupa, merupakan konflik biasa tatkala muncul kepedulian sang distributor ganda terhadap sasaran operasi, di mana ada jalinan emosi yang menghasilkan bias. Tapi, menyerupai yang belum usang ini aku tuturkan melalui ulasan 102 No Out, perfilman Bollywood tengah bagus-bagusnya membungkus drama. Terjadi pula di sini sewaktu duo penulis naskah, Bhavani Iyer dan Meghna Gulzar, mengedepankan unsur cinta, nilai kekeluargaan, serta bagaimana jikalau keduanya dibenturkan dengan patriotisme. Awalnya, Raazi terasa sebagai perjuangan terlampau gamblang guna menyuarakan patriotisme. Hidayat (Rajit Kapur), yang menjalin persahabatan dengan Brigadir Pakistan demi mengorek isu bagi India bersedia memperlihatkan nyawa bagi negerinya. Hal itu ia ucapkan secara verbal, bukan nilai tersirat yang akan dipetik penonton.
Begitu tumor paru-paru ganas menciptakan usianya tak lagi lama, Hidayat mengirim puteri tunggalnya, Sehmat (Alia Bhatt) untuk melanjutkan misi tersebut. Sehmat bakal dinikahkan dengan putera sang Brigadir, kemudian belakang layar menyuplai isu kepada intelijen India. Seperti ayahnya, Sehmat lantang berkata bahwa tidak ada yang lebih penting ketimbang tanah air. Apabila anda berasal atau akrab dengan keluarga militer, niscaya tahu jikalau patriotisme bebuyutan macam ini masuk akal terjadi, bukan ketidaklogisan naskah filmnya. Namun perlahan, khususnya sesudah mencapai konklusi, Raazi mengungkap “wajah aslinya”. Ini bukan propaganda pendukung patriotisme buta. Sebaliknya, Raazi memperlihatkan betapa kebutaan itu sanggup menghapus rasa kemanusiaan, memporak-porandakan cinta bahkan keluarga. “Dia cuma melaksanakan itu demi negara”, sebut seorang tokoh. Saat itulah nurani dipertanyakan.

Seperti telah disebut, sumber adaptasinya mengambil wangsit dari kisah nyata, tepatnya Perang India-Pakistan tahun 1971. Jangan khawatir akan tersesat apabila kurang familiar dengan salah satu babak sejarah tersebut, meski tidak ada salahnya membaca satu-dua sumber terlebih dahulu. Setelah lima menit awal yang diisi pemaparan fakta dan nama beruntun, Raazi cenderung gampang dicerna. Karena walau berlatar konflik internasional, fokus alurnya terjaga, setia bertahan di lingkup misi Sehmat, sambil sesekali menggali drama keluarga pemicu duduk perkara dalam dirinya. Bhavani Iyer dan Meghna Gulzar urung termakan menyentuh ranah yang lebih luas nan bombastis. Memanasnya konflik India-Pakistan merupakan latar, sedangkan kisah utamanya tetap personal.
Sebagai intelijen, demi mejaga kerahasiaan jati diri, Sehmat mesti menempuh banyak sekali jalan rumit guna menjalankan misi. Dia mesti menghafalkan sandi morse, arahan nama untuk tiap-tiap pihak Pakistan, sandi, serta identitas para distributor lain yang siap memberi bantuan. Rumit, tapi kerumitan itu dijaga biar cukup ada di kepala Sehmat semata. Kita, penonton, tidak ikut dibentuk pusing karenanya. Semua berkat naskah ditambah kemampuan bercerita secara rapi milik sang sutradara, Meghna Gulzar (Just Married, Talvar). Pun Meghna dibantu penyuntingan dinamis Nitin Baid, yang acap kali melahirkan kesempurnaan timing penyulut ketegangan tingkat tinggi. Banyak unsur “tiba-tiba” yang bisa menggedor jantung berkat elemen tersebut. Momen Sehmat belakang layar menyalin berkas sang mertua contohnya.

Digawangi oleh penulis naskah dan sutradara wanita, Raazi pun turut bermetamorfosis jadi kisah ekspo kekuatan seorang wanita, yang mengalami transformasi, dari mahasiswi yang tak sanggup melihat seekor bajing terlindas mobil, menjadi kepetangan tangguh yang bersedia melindas badan insan dengan mobil. Alia Bhatt menjual perkembangan abjad itu dengan baik, meyakinkan sebagai intelijen yang taktis sekaligus pintar dalam menuntaskan tugas. Biar demikian, momentum terbaiknya selalu terjadi kala bersinggungan dengan porsi drama emosional. Sebab pada momen-momen itu juga, kita melihat kekuatan terbesar Sehmat. Bukan soal merenggut nyawa atau menipu lawan, melainkan tetap bertahan sebagai insan berperasaan meski dihimpit situasi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Raazi (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel