Plagiarisme Oleh Dapur Sastra Dan Teater Stks (Dstsks) Bandung


UPDATE: Pihak DSTSTKS sudah memberikan undangan maaf resmi di akun instagramnya.

Saya selalu bahagia hati membantu siapa pun yang ingin berkarya. Dari hal "remeh" menyerupai lawan diskusi hingga turun eksklusif dalam proses. Bagi pembaca blog ini mungkin ingat saya pernah posting soal pementasan teater berjudul Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta (di sini) Sebuah drama musikal yang naskahnya saya tulis sendiri dan dipentaskan oleh Keluarga Rapat Sebuah Teater 4 Maret 2017 lalu. Info mengenai pementasan ini tentunya saya sebarkan pula di Twitter selaku media promosi. Kemudian pada 19 Maret, akun Twitter @yanuarprastito mengirim DM pada saya. Intinya, ia dari UKM Dapur Sastra dan Teater Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (DSTSTKS) Bandung meminta naskah pertunjukan tersebut dengan alasan alat berguru penulisan naskah. Tanpa ragu saya kirimkan, walau berbentuk draft  awal lantaran naskah final kebetulan saya simpan di Harddisk eksternal. Berikut isi perbincangan yang bab awal sebagai "permintaan naskah untuk berguru telah dihapus entah kenapa.
Sekedar informasi, undangan serupa sudah beberapa kali saya terima untuk naskah-naskah lain, baik lewat media umum atau mendatangi langsung. Selalu saya berikan. Karena apa? Saya dengan bahagia hati membantu para penulis naskah yang ingin belajar, alasannya yaitu sebagaimana kita tahu, termasuk di film Indonesia, naskah kerap jadi kelemahan (bukan berarti naskah saya bagus). Tapi alangkah kagetnya, tengah malam tadi, saya mendapatkan pesan dari Afra Imani Nasution yang mana salah satu sutradara drama musikal tersebut (satunya Arswendi Dharmaputra, keduanya juga turut serta menyempurnakan naskah saya) bahwa DSTSTKS telah mementaskan naskah tersebut pada 23 Mei 2017 tanpa meminta izin saya atau dia, tanpa mencantumkan kredit. Lebih parahnya lagi, poster mereka pun memalsukan logo pertunjukan kami dari KRST (di pojok kiri atas poster kami). Gambar didapat dari akun Instagram @dstks dan @dyahnk_ Bisa kalian lihat kesamaan dan ketiadaan kredit untuk penulis naskah (poster DSTKS di kiri, poster kami KRST di kanan). 
Benar pementasan sudah lewat, tapi poinnya yaitu ketiadaan izin dan pencantuman kredit, baik untuk naskah maupun poster. Bukan bermaksud berkeluh kesah, tapi asal kalian tahu wahai anggota UKM DSTSTKS  yang saya harap tidak tumbuh jadi pembuat film kacrut macam Hantu Cantik Kok Ngompol?  naskah tersebut yaitu hasil proses panjang. Saya mulai menulisnya sekitar bulan Juli 2016 kemudian gres usai sekitar November. Empat bulan. Dan tahap casting hingga pentas berlangsung empat bulan berikutnya. Itu bukan proses gampang kawan. Delapan bulan bukan waktu singkat. Dan kalian seenaknya mencatut naskah dan poster kami, mementaskannya dua bulan pasca menerimanya? 

Saya tidak akan menolak bila secara layak kalian meminta izin mengadaptasi. Hell, saya bahkan bakal membantu kalau diharapkan tanpa bayaran sepeser pun. Kalian masih muda (dari isu akun Instagram, rata-rata tim berusia 19-21 tahun). Jalan berkarya kalian masih panjang. Dan menyerupai yang sutradara kalian, Zulfa Rosyida (@zulfarhs) tuturkan, "Sederhana dalam sikap, kaya dalam karya", kekayaan karya seni sangat mungkin kalian raih ke depannya. TAPI PLAGIARISME ADALAH HAL TERENDAH DALAM BERKARYA! Dari beberapa daftar cast saya melihat ada tokoh gres yang berarti kalian melaksanakan adaptasi, namun bukan berarti sanggup meniadakan izin dan kredit. Kredit itu penting kawan. Bayangkan kalian punya anak, kemudian anak tersebut, buah hati kalian, darah daging kalian, diakui orang lain sebagai anaknya. Bilang kalau kalian bakal santai-santai saja. 

Saya ingin sekali bersumpah serapah. Tapi sudahlah. Kalian masih muda, masih tidak berpikir panjang. Mungkin senior kalian lalai mengajarkan soal ini? Entah. Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta berarti banyak bagi saya. Itu naskah terakhir saya bagi Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST) sesudah tujuh tahun berguru di sana sebelum saya menyerahkan kiprah penulisan pada yang muda. Itu pentas besar (begitu kami menyebut rutinitas tahunan pentas di Taman Budaya Yogyakarta) terakhir saya bersama mereka. Melalui goresan pena ini saya hanya berharap respon kalian. Saya tidak akan meminta royalti uang atau apalah. Itu tidak penting. Bukan itu substansinya. Hubungi saya, jelaskan semuanya. Saya mendengarkan dengan kepala dingin. You know where to reach me. Lha minta naskah untuk dijiplak saja bisa, masa mengklarifikasi soal itu tidak? Atau jikalau pembaca ada yang kebetulan mengenal anggota DSTSTKS mungkin sanggup memberikan goresan pena ini. Kalian "berhutang" bukan pada saya saja, tapi ke lebih dari 50 orang yang terlibat dalam Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta

Salam seni, Salam budaya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Plagiarisme Oleh Dapur Sastra Dan Teater Stks (Dstsks) Bandung"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel