Peter Rabbit (2018)

Everyone is allergic to something nowadays”, demikian ucap Peter (disuarakan James Corden). Kebetulan kalimat ini mengundang paralel terkait tudingan bahwa film ini melaksanakan “allergic bullying”. Sebab di salah satu adegan, Peter dan teman-temannya memanfaatkan alergi blackberry yang diderita Thomas McGregor (Domhnall Gleeson) untuk melemparinya memakai buah tersebut. Fenomena ini menunjukkan mengapa tontonan macam Peter Rabbit dibutuhkan. Sebuah film dengan satu-satunya tujuan ialah bersenang-senang, meski hiburan miliknya takkan baka di ingatan penonton.

Ketika hampir segala hal di dunia dipandang sebagai permasalahan, Peter Rabbit enggan peduli, tanpa takut menggelar petualangan anarkis yang bagai pembiasaan Tom & Jerry.  Apabila Tom dan Jerry saling melempar meriam, maka Peter beserta saudara-saudaranya memasang perangkap listrik yang sanggup menciptakan seseorang tersetrum sampai terlempar. Kedua tontonan itu pun sama-sama menampilkan karakernya dihantam pegangan garpu taman yang mereka injak. Bedanya, Peter Rabbit berani mengatakan maut  tokoh insan secara on-screen.
Mr. McGregor (Sam Neill) yang amat membenci kelinci dan pernah membunuh ayah Peter kemudian memakannya, mendadak tewas alasannya ialah serangan jantung. Dia tewas kala memburu Peter yang kerap mencuri sayur serta buah di ladangnya. Baru sebentar hewan-hewan berpesta pora, datanglah Thomas, keponakan jauh Mr. McGregor yang mewarisi rumah tersebut. Thomas rupanya tidak kalah kejam dibanding sang paman soal memburu kelinci. Malang bagi Peter, keberuntungan bagi penonton, alasannya ialah kemunculan Gleeson memperbaiki dinamika film yang sempat kurang stabil di awal.

Domhnall Gleeson menyimpan bakat komedi luar biasa melalui histeria komikal yang selalu berhasil menyentuh urat tertawa. Gleeson menyebabkan Thomas sosok antagonis yang menyenangkan ditonton pula gampang disukai. Bukan hanya oleh penonton, juga Bea (Rose Byrne), pelukis yang selama ini melindungi para kelinci dari kejaran Mr. McGregor. Ya, Bea dan Thomas saling jatuh cinta. Peter yang selama ini merupakan kelinci favorit Bea pun cemburu, memfasilitasi naskah buatan Will Gluck (juga selaku sutradara) dan Rob Lieber berpetuah soal cinta. Bahwa cinta semestinya dibagi, disebarkan ke semua makhluk alih-alih jadi materi obsesi diri sendiri.
Walau mengandung pesan, pemaknaan terhadapnya urung diposisikan selaku fokus terdepan. Peter Rabbit tetap menyimpan secuil momen hangat seputar keluarga, tapi bersenang-senang masih jadi tujuan utama. Film ini boleh berasal dari buku dongeng anak yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1902, Will Gluck berusaha menciptakan filmnya sebisa mungkin terasa kekinian. Tengok saja penggunaan gugusan lagu “Top 40” macam Feel it Still yang sekilas merupakan pilihan klise nan malas, namun efektif mendukung niatnya bersenang-senang.

Semakin brutal pertarungan Peter dan saudara-saudaranya melawan Thomas, semakin menyenangkan. Pula seiring bergulirnya kejenakaan aneh nan kreatif berbungkus kesempurnaan timing dari Gluck, turut bertambah daya pikat filmnya. Peter Rabbit bagai enggan menahan diri, menggila guna menghadirkan hiburan. Lagipula, ini hidangan petualangan kental komponen slapstick ihwal kelinci-kelinci yang sanggup bicara dan mengenakan jaket (tanpa celana)? Kaprikornus untuk apa menahan diri?

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Peter Rabbit (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel