Pari: Not A Fairytale (2018)


Dalam Pari: Not a Fairytale mengalir perpaduan DNA antara romansa antar spesies macam Let the Right One In dengan The Omen, Rosemary’s Baby, atau film-film lain seputar anak iblis. “Pari” sendiri berarti peri. Tapi peri di sini bukan makhluk anggun menyerupai Tinkerbell, tetapi anak hasil persetubuhan insan dan jin melalui sebuah ritual persembahan. Bukan pula jin sembarangan, melainkan Ifrit, yang dalam kepercayaan Islam yaitu jin terkuat. Menjalin cinta bersama puteri Ifrit—sebagaimana dinyatakan judulnya—tentu tak semudah dan seindah dongeng.

Pria “beruntung” itu berjulukan Arnab (Parambrata Chatterjee), laki-laki pemalu yang sedang menjalani proses perjodohan sesudah seumur hidupnya belum pernah berpacaran. Pasca sebuah kecelakaan ketika mobilnya menabrak perempuan bau tanah sampai tewas, ia bertemu puteri perempuan tersebut, Rukhsana (Anushka Sharma). Namun ada yang asing dalam diri gadis ini. Dia jarang bicara, tidak mengetahui benda sehari-hari dari salep sampai televisi, juga takut pada dupa. Jika kita tinggal di gubuk kecil di tengah hutan, dipasung, hanya ditemani ibu serta sekelompok anjing liar, mungkin kondisinya pun serupa.
Pari menyimpan unsur mitologi menarik. Terdapat fatwa sesat penyembah Ifrit yang bertujuan menyebar benih sang jin ke seluruh dunia. Sementara di kubu berlawanan, sekelompok orang memburu fatwa tersebut, membunuh bayi-bayi yang dikandung pengikutnya guna menghentikan rencana Ifrit. Mereka percaya kalau rencana itu terlaksana, selesai zaman akan datang. Jangan tanya bagaimana. Skenario buatan Prosit Roy (juga selaku sutradara) dan Abhishek Bannerjee luput mengeksplorasi mitologinya. Ketimbang menelusurinya sepanjang durasi, pengungkapan fakta sporadis di satu titik jadi pilihan. Alhasil selama 134 menit kerap terjadi kekosongan di alur.

Tatkala poin substansial tadi dikesampingkan, aspek kurang berarti berupa konflik cinta segitiga justru dimasukkan. Masih banyak pemicu problem antara Arnab dan Rukhsana yang sanggup dimanfaatkan. Ini percintaan lelaki canggung dan perempuan asing puteri jin. Mengapa problematikanya lagi-lagi soal cinta segitiga ketika bermacam-macam anomali semestinya sanggup tersaji? Untungnya interaksi Arnab-Rukhsana terjalin cukup manis plus sesekali menggelitik, khususnya alasannya yaitu kegagapan tekonologi si wanita. Melihatnya terpukau oleh televisi, kemudian mencar ilmu memberikan “I love you (too)” yaitu pemandangan lucu sekaligus manis.
Penampilan Anushka Sharma memegang peranan penting berkat kesuksesan mencampur kelucuan, keanehan, dan kengerian. Sayang, filmnya sendiri gagal mengekor keberhasilan sang aktris sewaktu lompatan tone kerap mengganggu. Prosit Roy dan tim punya dua pilihan: a) meninggalkan rasa horor untuk total menghadirkan percintaan dengan dunia mistis selaku latar belakang, atau b) sepenuhnya tancap gas sebagai horor. Tapi Roy terlampau berambisi dan menentukan menyatukan segalanya tanpa dosis dan penempatan tepat.

Hasilnya yaitu krisis identitas. Kuantitas kengeriannya minim untuk disebut horor, tetapi sebagai non-horor, penampakan hantu dalam balutan jump scare terang cukup banyak dan kerap memberi distraksi. Deretan jump scare yang nyaris tanpa taji jawaban kurang piawaianya Roy mempermainkan perasaan penonton. Timing-nya beberapa kali meleset, pergerakan kamera kadang terlalu lambat guna menggedor jantung, bahkan di sebuah kesempatan kala adrenalin mestinya dipacu, ia justru mengaplikasikan gerak lambat. Sinematografi garapan Jishnu Bhattacharjee yummy dilihat namun kurang berdampak di tataran rasa.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pari: Not A Fairytale (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel