Pad Man (2018)


“Jika hati bersih, semua akan bersih”. Demikian respon Gayatri (Radhika Apte) atas protes sang suami, Lakshmi (Akshay Kumar), terhadap kengototannya menggunakan kain kotor dikala menstruasi. Kain itu sangat kotor hingga Lakshmi enggan menggunakannya untuk mencuci sepeda. Itulah referensi tatkala spiritualitas menghalangi intelegensi. Pad Man, yang didasari dongeng pendek The Sanitary Man of Sacred Land dalam buku The Legend of Lakshmi Prasad yang juga terinspirasi kehidupan penggagas Arunachalam Muruganantham, coba melecut kesadaran terkait kesehatan, yang kerap terlupakan jawaban dibutakan tabiat atau kepercayaan.

Jika Indonesia punya para anti-vaksin dan pengusung keyakinan “sperma bisa merasuk lewat kulit”, di India, menstruasi dipandang sebagai hal tabu. Sewaktu tiba bulan, perempuan diwajibkan tidur di luar, dijauhi, seolah perlambang dosa. Tergerak melihat kesulitan Gayatri, Lakshmi berusaha mencari akal. Karena pembalut dijual dengan harga mahal plus transaksi belakang layar kolam membeli ganja, Lakshmi berinisiatif membuat pembalut sendiri. Bukan saja soal keterbatasan pengetahuan, Lakshmi mesti berurusan dengan stigma. Warga menganggapnya laki-laki mesum, keluarganya pun menentang keras.
Lakshmi membutuhkan perempuan selaku lawan diskusi sekaligus membantu uji coba pembalut buatannya. Melihat sekelompok perempuan buru-buru menutup cadar sehabis memasukkan makanan ke mulut, Lakshmi berujar, “makan saja mereka malu”. Giliran beberapa suster ingin ia olok-olokan pertanyaan soal kewanitaan, si suster berkata, “Bertanyalah pada Yesus”. Di sini, sutradara plus penulis naskah, R. Balki (Ki & Ka, Dear Zindagi) menyentil kealiman yang justru sering mengerdilkan pola pikir. Tapi ia bersikap adil. Ditunjukkan pula jajaran berilmu (siswi-siswi sekolah medis) yang tertutup pikirannya dikarenakan telah merasa paling pintar.

Pad Man memang bertujuan mengedukasi, dan paparannya baik soal kondisi perkara sanitasi di India maupun terkait pembalut tampil informatif tanpa perlu menjadi iklan layanan masyarakat. Di secara umum dikuasai kesempatan, Lakshmi digambarkan penuh kebaikan, tapi tak sempurna. Sosoknya tetap insan biasa yang hatinya sanggup tergoda, sementara kepeduliannya sempat menyentuh kecenderungan obsesi, pun tidak bisa menjalankan semua seorang diri. Lakshmi butuh orang lain, tepatnya wanita. Di sinilah Pad Man berkembang, turut menyentuh ranah pemberdayaan wanita.
Inspirasi Lakshmi merangkai mesin sederhana guna membuat pembalut dengan harga terjangkau timbul berkat seringnya ia memperhatikan acara sang istri. Kemajuan pesat juga gres dialami pasca bertemu Pari (Sonam Kapoor), musisi sekaligus puteri seorang profesor. Tanpa mereka, mungkin Lakshmi cuma laki-laki mesum di mata masyarakat. Tanpa wanita, laki-laki tidak ada artinya. “Suatu negara besar lengan berkuasa apabila wanitanya kuat”,  sebut Lakshmi dalam sebuah seminar di Amerika Serikat yang memberi Kumar kesempatan memamerkan puncak aktingnya kala dituntut menurunkan kemampuan Bahasa Inggris sembari melontarkan pidato emosional.

Poin utama mengapa Pad Man terhindar dari kesan “iklan layanan masyarakat” yaitu motivasi tokoh utamanya. Lakshmi sadar telah mempermalukan Gayatri, kemudian bertekad mengubah rasa aib itu jadi kehormatan. Di luar perkara kesehatan maupun pemberdayaan wanita, Pad Man mendahulukan kisah cinta. Perjuangan Lakshmi didasari cinta, sehingga tepat pula keputusan mengakhiri kisahnya dengan aroma romansa. Penutup menyentuh yang menekankan kesetiaan dalam kekerabatan cinta milik Pad Man, jagoan super berhati mulia dengan senyum mempesona.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pad Man (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel