Love For Sale (2018)


Kalau bukan lantaran gaya tutur Andibachtiar Yusuf (Mata Dewa, Hari Ini Pasti Menang, Romeo Juliet) yang kurang memanfaatkan komedi visual quirky, Love for Sale bakal tampak menyerupai film yang mengincar partisipasi di Sundance, dan dibentuk oleh sineas yang berbaur di komunitas drama-komedi indie Amerika bersama Noah Baumbach dan kawan-kawan. Filmnya mengambil pendekatan segar cenderung absurd terhadap dongeng usang soal cinta dan kesendirian. Betapa tidak? Richard (Gading Marten) si abjad utama punya kura-kura besar berjulukan Kelun yang menemaninya melaksanakan dua hobinya di rumah: menonton sepak bola dan galer (garuk peler).

Balutan humor, khususnya yang berbentuk komedi verbal, tersaji lucu dalam kisah mengenai Richard, pemilik perjuangan percetakan warisan orang renta angkatnya sekaligus seorang jomblo akut. Dia kesepian, dan konon rasa sepi memunculkan ketidakramahan. Richard selalu bersikap galak kepada para karyawan, menerapkan disiplin waktu luar biasa ketat. Sementara di rumah alias ruang paling personal, Richard bagai menelantarkan diri. Berkeliaran dengan pakaian dalam sambil menggaruk-garuk pantat (dan tentunya peler). Richard mengaku sudah punya pacar pada sahabat-sahabatnya, yang pastinya tak pernah ia ajak, lantaran itu kebohongan semata.
Andibachtiar masih menyelipkan kegemarannya akan sepak bola. Nobar sepak bola jadi momen berkumpul rutin Richard bersama para sahabat, pun beberapa humor “lokal” serta acuan wacana sepak bola sering mengisi, dari ketampanan David Ginola hingga buruknya prestasi Newcastle. Cukup menggelitik bagi yang paham, meski akan lebih lucu bila olok-oloknya ditujukan untuk Arsenal (sorry Gooners). Berawal dari nobar pula konflik utama bermula. Sahabat-sahabat Richard bertaruh bahwa ia takkan membawa pasangan saat menghadiri ijab kabul Rudy (Rizky Mocil). Di sini aplikasi penyedia pasangan Love, Inc. memberinya jalan keluar.

Setelah melewati paruh pertama selaku pengenalan tokoh dan duduk kasus yang bergulir terlalu lama, Richard kesudahannya bertemu Arini (Della Dartyan), yang akan menemaninya, tinggal bersamanya selama 45 hari sebagai kekasih. Praktis ditebak, Richard kesudahannya jatuh cinta sungguhan. Bisa dimaklumi, lantaran penonton pun bakal gampang mengasihi Arini berkat kemampuan sang aktris meluluhkan hati lewat komunikasi, baik verbal maupun non-verbal (senyum, tatapan). Seperti Richard, penonton dibentuk jatuh cinta pada Arini, yang berarti perjuangan sutradara menyalurkan emosi berhasil. Sedangkan Gading menghadirkan performa terbaik sepanjang karirnya selaku pembuktian bahwa ia bisa melakoni tugas dramatik yang (lebih) serius.
Karakter Richard dibuatnya tampak menyedihkan dengan perjuangan frustasi mencari pasangan (sampai mengajak salah satu karyawan), kebiasan garuk-garuk, juga dibantu pilihan kostum yang menegaskan keengganannya mengurus diri. Gading tepat memadukan nuansa bittersweet, termasuk di sebuah momen “perpisahan” jelang akhir. Serupa Della, Gading mengandalkan senyum, hanya saja jenis senyum berbeda yang sanggup menciptakan penonton ingin menepuk pundaknya. Chemistry solid Gading-Della sukses membangun romantisme disisipi adegan bercinta yang cukup memberi filmnya rating 21+. di samping konten dongeng cukup umur seputar persewaan wanita yang menyerupai praktek prostitusi. Sampai goresan pena ini dibuat, perasaan manis-pahit hubungan keduanya masih terngiang terang di benak saya.

Terkait aplikasi Love, Inc. sendiri, filmnya meninggalkan kita pada ambiguitas yang memancing pertanyaan, bukan cuma soal plot (modus operandi Love, Inc., yang apa pun tujuannya, bakal lebih banyak menjadikan duduk kasus ketimbang laba finansial bagi mereka), juga destinasi yang ingin filmnya capai lewat unsur tersebut. Sindiran mengenai percintaan di kala modern? Satir untuk kepalsuan sekaligus perilaku tak humanis dalam industri seni dan hiburan? Atau semata-mata demi elemen kejutan?  Saya percaya semua itu tersimpan di pikiran Andibachtiar. Sayang, usahanya menyalurkan isi pikiran tak semulus penyaluran emosi. Setidaknya Love for Sale mempunyai pembeda guna menangani familiaritas serta repetesi tema percintaan di film kita. Wahai jomblo, tonton Love for Sale, kemudian pergilah keluar, saksikan seisi dunia daripada terkurung dalam kemurungan sendiri.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Love For Sale (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel