Fanney Khan (2018)

Banyak anak (termasuk saya dulu), berpikir bahwa orang tua, atau dalam konteks di sini ayah, tidak mengerti mereka dengan segala impian dan kemauannya. Ayah kolam sosok menyebalkan yang gemar melemparkan pertanyaan yang berdasarkan sang anak tidak penting. Mereka tak tahu, kalau berkebalikan dengan persepsi negatif tersebut, satu-satunya yang ayah inginkan tak lain memenuhi kemauan sang anak. Perbedaan zaman membuat jurangkultural sehingga ayah-anak sering berjarak kala berkomunikasi, dan pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu sejatinya yaitu usaha memahami untuk memangkas jarak tersebut.

Para ayah bekerja luar biasa keras, namun enggan memamerkan kesulitan-kesulitan di tiap langkahnya, lantaran terpenting baginya, si anak memperoleh apa yang diinginkan, bila perlu, tanpa bersusah-susah dahulu. Kondisi itu sebagaimana penampil tidak mengutarakan proses jatuh-bangun di belakang panggung kepada penonton, yang tidak butuh dan/atau tidak mau tahu. Walau  pengetahuan akan fase itu pasti membuat mereka lebih mengapresiasi sang penampil. Fanney Khan, selaku remake dari Everybody’s Famous! (2000) yang berhasil meraih nominasi Best Foreign Language Film sebagai perwakilan Belgia di ajang Oscar tahun 2000, mengajak kita mengintip suasana di belakang panggung.

Prashant Sharma (Anil Kapoor) merupakan vokalis grup orkestra kelas kampung. Memakai nama panggung “Fanney Khan”, ia bermimpi menjadi penyanyi tenar, hingga realita memaksanya menjejak bumi. Tapi mimpinya tak pernah kandas. Fanney berharap sang puter kelak sanggup meneruskan impian itu, namun ia bukan ayah yang melampiaskan kegagalannya dengan memaksa puterinya meneruskan jejaknya. Sebab Lata (Pihu Sand) pun mempunyai hasrat serupa. Sayang, badan tambun menghalangi cita-citanya, akhir tiap beraksi di atas panggung, caci maki penonton wacana bentuk tubuhnya selalu terdengar.

Lata merupakan korban ketidakadilan standar kecantikan, tetapi Fanney Khan tidak berusaha mengeruk simpati dari situ. Sebaliknya, Lata digambarkan sebagai tokoh yang kurang simpatik. Siapnya terhadap Fanney seringkali kasar. Misal ketika Fanney begitu bersemangat memperdengarkan lagu yang khusus ia ciptakan bagi Lata, namun Lata justru mengenakan earphone. Menyebalkan, tapi perilaku kebanyakan anak di masa bakir balig cukup akal memang demikian. Apabila anda merasa kesal melihatnya, mari berkaca sejenak, apakah kita pun bertindak begitu terhadap orang tua?

Skenario garapan Atul Manjrekar (juga sutradara), Hussain Dalal, dan Abbas Dalal mengusung formula tearjerker tradisional, bahkan lebih konvensional ketimbang kebanyakan drama mengharu biru buatan arus utama Bollywood belakangan. Berbagai momen penghinaan terhadap Lata disajikan berlebihan, terkesan manipulatif, dan berpotensi mengalineasi penonton yang telah lelah dengan formula demikian. Maka hadirlah Anil Kapoor, yang melalui performanya, memastikan penonton dari kelompok mana pun, bakal tersentuh oleh usaha Fanney Khan.

Raut wajah Anil memancarkan kemurnian, cenderung mengarah pada kepolosan. Sewaktu terlibat pertengkaran dengan Lata, Fanney tak memahami kesalahannya. Wajahnya, menunjukkan kebingungan sekaligus kesedihan. Hatinya terluka. Tapi elemen paling menyentuh yaitu setiap Fanney melihat mimpi puterinya bertahap mendekati kenyataan. Mata Anil bersinar, senyumnya mengembang lebar, mengatakan ibarat apa perwujudan kasih sayang lapang dada seorang ayah. Kepolosannya, ditambah keputusasaan yang dipicu kesulitan uang dan ambisi memenuhi mimpi sang puteri, menyebabkan segala keputusan kurang pintar atau langkah aneh yang Fanney ambil sanggup dipercaya. Tidak sanggup dibenarkan, namun sanggup dipahami.

Langkah aneh di atas berupa aksinya menculik Baby Singh (Aishwarya Rai), megabintang sekaligus idola Lata. Apa yang Fanney minta selaku tebusan takkan saya sebut, alasannya yaitu merupakan pondasi konflik kompleks serta puncak emosi di paruh akhir. Tapi saya sanggup menyebutkan betapa memesona Aishwarya, dengan rambut merah, mata hijau, kepercayaan diri setinggi langit, ia terperinci mendefinisikan “Megabintang”, status yang juga ia sandang di kehidupan nyata. Dia pun bersinar dalam momen komedik. Seluruh adegan yang melibatkan interaksi konyol nan canggung antara Fanney dan Adhir (Rajkummar Rao) si penculik amatir dengan korbannya yang jauh lebih cerdik yaitu komedi brilian. Bertugas sebagai “perespon”, sang aktris tidak pasif, merespon lewat kelucuan yang mengeskalasi kualitas humornya.

Keputusan Fanney menculi Baby terperinci elemen problematik dalam naskahnya, yang berbeda dari film sumber inspirasinya, bukan berwujud satir. Penonton terang-terangan diajak membenarkan kegilaan Fanney. Belum lagi keterlibatan unsur Stockholm Syndrome di penculikan tersebut. Fanney Khan menentukan menyederhanakan semuanya, termasuk caranya menutup konflik yang melibatkan kriminalitas serta skandal berskala nasional. Film ini memang sederhana, formulaik, layaknya lagu pop yang mengalun mengikuti contoh sarat nada-nada kegemaran pasar yang praktis dimainkan pula diingat plus refrain uplifting.  Namun bukankah lagu ibarat itu yang praktis tertinggal di perasaan? Fanney Khan jelas demikian.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Fanney Khan (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel