Dilan 1990 (2018)

Dilan 1990 diadaptasi dari novel buatan Pidi Baiq yang konon terinspirasi dari dongeng nyata. Andai percintaan Dilan dan Milea sungguh benar adanya, saya yakin Pidi cuma mengambil garis besar dongeng mereka. Sisanya, terlebih obrolan yang ada, pastilah rekayasa. Sebab insan mana yang mengucapkan kalimat ibarat “Kamu cantik, tapi saya belum mencintaimu. Enggak tahu bila sore. Tunggu aja” atau “Jangan rindu. Berat. Kau enggak akan kuat. Biar saya saja”. Terdengar menjijikkan? Mungkin. Tapi bukankah kita kerap menganggap kemesraan dan rayuan (sok) puitis itu menjijikkan hingga akibatnya kita sendiri melakukannya, menikmatinya kala terjebak asmara?

Menonton Dilan 1990 rasanya ibarat menjalani sebuah kekerabatan cinta. Hal yang awalnya menggelikan kemudian berubah jadi manis nan memabukkan. Milea (Vanesha Prescilla) gres pindah dari Jakarta ke sebuah Sekolah Menengan Atas di Bandung. Seketika banyak siswa terpikat padanya. Milea sendiri mempunyai pacar di Jakarta. Beni (Brandon Salim) namanya. Tapi pikiran Milea justru dikuasai Dilan (Iqbaal Ramadhan), bocah begajulan anggota geng motor dengan julukan “Panglima Tempur” yang di awal pertemuan kerap melontarkan ramalan-ramalan. “Aku ramal kita akan bertemu di kantin”, demikian ucap Dilan. Aneh? Tunggu hingga ia menghadiahkan TTS yang sudah terisi penuh di hari ulang tahun Milea alasannya tidak mau menciptakan si gadis pusing.
Pokoknya Dilan unik. Begitu juga adiknya. Alasannya, sang bunda (Ira Wibowo) bukan ibu-ibu kaku, yang akibatnya membentuk kepribadian anak-anaknya. Saya dan para penonton lain yang telah memasuki usia cukup umur bisa jadi menganggap Dilan beserta caranya menyayangi abnormal ketimbang unik apalagi romantis. Tapi mungkin ketika Sekolah Menengan Atas dulu saya akan memahami romantismenya. Mungkin ketika Sekolah Menengan Atas dulu saya akan mengakibatkan Dilan panutan semoga diidolakan gadis-gadis. Mungkin di masa saya Sekolah Menengan Atas dulu, konsensus menawarkan Dilan yaitu pria manis. Alhasil saya pun coba memandang Dilan 1990 sebagai sarana nostalgia. Lagipula setting 90-an miliknya memfasilitasi tujuan itu.

Memakai perspektif tersebut, filmnya lebih bisa dinikmati, bisa melemparkan saya kembali menuju manis dan pahit romantika masa remaja yang diisi kecemburuan, rayuan, kebahagiaan kala sang pujaan pertama kali bersedia membonceng motor, hingga usaha memacu adrenalin untuk merebut hati kekasih orang (ups!). Penyutradaraan duet Fajar Bustomi (Surat Kecil untuk Tuhan, Jagoan Instan) dan Pidi Baiq belum total dalam urusan merangkai momen asmara baik yang menggemaskan maupun romantis, tapi iringan nomor manis Dulu Kita Masih Sekolah Menengan Atas selalu siap membantu menambal kekurangan terkait rasa dalam pengadeganan.
Pengarahan kedua sutradaranya memang kerap menghalangi suatu adegan memunculkan efek yang diinginkan. Contohnya ketika komedinya sering berujung cringey. Ada peranan pemain yang kurang sempurna penyampaiannya, tapi lebih banyak didominasi didorong kecanggungan adegan. Seolah Fajar dan Pidi gundah harus mengemasnya bagaimana. Kebingungan serupa dialami Iqbaal. Sewaktu bermain santai, ia menyenangkan disimak, hidup dan dinamis sebagaimana ditunjukkannya lewat Ada Cinta di SMA. Kondisinya berbalik ketika dipaksa melontarkan kalimat “khas Dilan”. Iqbaal kaku tatkala harus berbahasa baku. Setidaknya satu senyuman cukup mendorong penggemarnya berteriak histeris. Sementara Vanesha Prescilla berhasil menciptakan Milea praktis disukai penonton, walau ibarat pasangannya, ia lebih menikmati ketika menghadapi suasana santai.

Alur Dilan 1990 bergerak episodik layaknya memori, pula berlangsung tipis minim konflik. Kehidupan Dilan selaku “Panglima Tempur” di geng motornya, konflik keluarga, kehidupan sekolah dan lain sebagainya memang masih bisa digali demi mengakali tipisnya plot, tapi bukan duduk kasus besar. Tujuan utama Dilan 1990 yaitu mempresentasikan percintaan remaja SMA, dan bukankah pada umumnya permasalahan di jenjang usia serta pendidikan tersebut memang tidak jauh-jauh dari situ? 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Dilan 1990 (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel