Benyamin Biang Kerok (2018)


Benyamin Biang Kerok yaitu perjuangan modernisasi. Bukan saja menyesuaikan kemajuan zaman lewat bumbu fiksi ilmiah lewat kehadiran ragam peralatan canggih macam kepunyaan Ethan Hunt di Mission: Impossible hingga robot, pula terkait urusan moralitas masa kini. Pengki yang diperankan Reza Rahadian tak lagi gemar berkata “brengsek” atau minum bir. Bahkan motivasinya yaitu menandakan bisa menjadi laki-laki berguna, juga membantu warga korban penggusuran alih-alih sekedar memuaskan ego pribadi. Haruskah semua “kelahiran kembali” legenda komedi dikemas begini? Dibuat sebagai blockbuster megah yang dipecah jadi dua bagian?

Keputusan membagi dua Benyamin Biang Kerok nyatanya memunculkan “penyakit lama” berupa ketiadaan klimaks, konklusi yang terpotong kasar, serta kurang bekembangnya aneka macam poin alur, khususnya percintaan Pengki dengan Aida (Delia Husein), penyanyi ternama yang terperangkap dalam kekangan durjana berjulukan Said Toni Rojim (Qomar). Aida terganggu ketika Pengki mengejar-ngejar dia, tapi beberapa menit kemudian hatinya mendadak luluh. Pengki yang di versi gres ini bukan lagi sopir melainkan anak manja putera pengusaha terkaya se-Indonesia, Nyak Mami (Meriam Bellina), memang gampang mendapat segala kemauannya. Bagaimana bisa terikat dengan abjad menyerupai itu?
Turut dilontarkan juga pesan-pesan bernada sindiran mengenai ragam isu, menyerupai penggusuran hingga praktik KKN di kalangan politikus serta pengusaha yang memang relevan dengan kondisi Jakarta/Betawi, yang mana merupakan identitas seorang Benyamin. Pesan yang tak memperoleh kesempatan bergulir lebih dalam sehingga berujung tempelan sambil kemudian di antara parade komedi plus agresi berkonsep menarik tapi amat lemah di eksekusi. Hanung luput memberi hook dalam visualisasi tiap lelucon. Ibarat pertandingan sepak bola, Benyamin Biang Kerok yaitu tim berkemampuan olah bola dasar mumpuni tanpa dibarengi efektivitas penyelesaian akhir. Sulit untuk memenangkan pertandingan.

Beruntung film ini punya Reza Rahadian dengan kemampuannya menyulap bahan komedi medioker jadi senjata pemancing tawa yang cukup ampuh. Berkaca dari abjad Pengki di Biang Kerok versi 1972, Reza bisa tampil menyerupai dengan Benyamin, mulai bunyi termasuk cara tertawa dan bernyanyi, gestur jenaka, hingga gaya merengek yang kalau di film orisinil menciptakan Nyonya Besar (Mak Wok) jengkel, sekarang memancing amarah Nyak Mami. Pun Reza sanggup mengakibatkan sederet adegan musikalnya terasa menyenangkan meski kerap kemunculannya kerap terganjal transisi kasar.
Terinspirasi film-film Bollywood—yang juga dijadikan “kiblat” film-film Benyamin dahulu—momen musikal Benyamin Biang Kerok diiringi lagu-lagu menyerupai Ondel-Ondel, Biang Kerok, Hujan Gerimis Aje, dan Nonton Bioskop yang diaransemen ulang, lebih kekinian tanpa harus melenceng dari esensi orisinalnya. Masalahnya ada di penempatan, yang daripada bertujuan melanjutkan atau mewakili rasa adegan sebelumnya, cenderung digunakan untuk menghabiskan stok lagu belaka. Bahkan “keserampangan” musikal Bollywood lebih tertata dari ini dipandang dari kesinambungan rasa. Tata artistiknya tergarap baik. Ada kemeriahan di sana, yang tidak pernah bisa ditangkap secara tepat akhir pilihan-pilihan shot Hanung.

Layaknya produksi Falcon lain, production value film ini terang kelas satu, yang hasilnya mendukung kemewahan momen-momen agresi kental teknologi mutakhir. Tapi keseruan gagal mencapai puncak, selain lantaran filmnya dipaksa berakhir sebelum menyentuh klimaks, juga disebabkan kurang piawainya Hanung meramu agresi abstrak (dalam hal ini Anggy Umbara lebih baik). Benyamin Biang Kerok urung menciptakan aku kesal. Saya betah duduk cantik selama 90 menit, tetapi selama 90 menit itu hanya ada pertunjukan sambil lalu. Kosong. This movie tried too hard to be everything but ended up as nothing. Benyamin S. yaitu soal kekayaan warisan baik seni maupun kultural, sedangkan Benyamin Biang Kerok, jangankan warisan, meninggalkan kesan saja tidak mampu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Benyamin Biang Kerok (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel