Arini (2018)

Bayangkan sebuah puzzle bergambar gajah. Hampir seluruh keping telah tersusun kecuali bab belalai dan gading yang ternyata hilang. Tentu anda sudah sanggup menebak bahwa itu gajah, namun ketidaktuntasan itu pastinya mengganjal. Lagipula esensi puzzle bukan menanyakan “gambar apa?”, melainkan bagaimana potongan-potongan kecil sanggup membentuk satu kesatuan besar. Arini sama ibarat itu. Film panjang kelima Ismail Basbeth (Another Trip to the Moon, Mencari Hilal) selaku pembiasaan novel Biarkan Kereta itu Lewat, Arini karya Mira W. ini ialah puzzle yang tidak selesai.

Saya belum membaca novelnya, pula menonton film versi 1987 (berjudul Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat) yang menampilkan pasangan Widyawati-Rano Karno. Tapi saya sanggup mencicipi bahwa di balik presentasi 80 menit ini tersembunyi tuturan soal pemberdayaan wanita, relasi beda usia yang berdampak pada interaksi berupa benturan referensi pikir, kegelisahan perihal cinta, sampai bermacam-macam kompleksitas lain, termasuk yang ditampilkan melalui sebuah twist di pertengahan kisah. Sayang, semua tersembunyi terlampau dalam dan urung mencuat merasuki hati serta pikiran penonton.
Naskah buatan Ismail Basbeth dan Titien Wattimena (Dilan 1990, Hujan Bulan Juni, Salawaku) menerapkan teknik non-linier di paruh awal. Kita diajak maju-mundur mengamati Arini (Aura Kasih) di masa kemudian dan kini. Timbul pertanyaan, mengapa di kedua masa yang terpisah 13 tahun itu perilaku Arina bertolak belakang? Sama-sama diawali perjalanan di atas kereta (satu di Jerman, satu di Indonesia), Arini masa sekarang tampak hambar cenderung ketus. Walau sejatinya kebanyakan orang niscaya bersikap sama kala didatangi laki-laki ajaib macam Nick (Morgan Oey) yang mendadak minta tunjangan untuk sembunyi alasannya ialah naik kereta tanpa karcis.

Nick 15 tahun lebih muda dari Arini. Muda, riang, penuh semangat, juga gila. Kegilaannya terlihat dikala Nick tiba-tiba muncul di apartemen Arini. Ya, ia mempunyai alasan terang (selain jatuh cinta pada pandangan pertama), yaitu mengembalikan telepon genggam yang tertinggal. Tapi setelahnya, Nick menolak pulang, membawakan bunga, memaksa tinggal untuk makan malam. Di sini ketidaklengkapan puzzle tadi berpengaruh. Penggambaran bahwa Arini rahasia mencari cinta dipaparkan kurang tegas. Arini ibarat perempuan yang gagal berguru dari stress berat masa kemudian dengan Helmi (Haydar Salishz) si mantan suami. Motivasinya kabur.
Arini berujung jadi satu lagi simplifikasi dongeng cinta, kala suatu film memaksa penonton mendapatkan perilaku abjad atas dasar “cinta tidak peduli logika”. Arini dan Nick pun menghabiskan sehari bersama di Heidelberg. Pertemuan yang diakhiri kurang menyenangkan, sebelum filmnya melompat beberapa waktu ke depan sambil memindahkan setting ke Indonesia. Bisa ditebak mereka bertemu lagi, meski sukar dipahami alasan Arini begitu saja memaafkan Nick, bocah yang mencaci-maki hanya alasannya ialah gagal meniduri wanita. Selanjutnya relasi keduanya bergerak lebih cepat dari Shinkansen, minim eksplorasi di ranah proses.

Sukar menyayangi romantika instan begini jikalau bukan didorong penyutradaraan plus akting. Morgan tampil beda. Walau sesekali terlihat memaksakan untuk menjadi perjaka “ekspresif”, penampilannya menyenangkan disaksikan. Begitu pula Aura Kasih, yang menyimpan persoalan serupa, yakni terlalu berusaha nampak hambar dan ketus. Menyatukan keduanya ialah penyutradaraan Ismail Basbeth yang sekali lagi berhasil menekankan olah rasa. Dibantu reka ulang lagu-lagu klasik ibarat Mencintaimu dan Kaulah Segalanya (dibawakan Morgan dan Claresta), Basbeth memunculkan romantisme dari kehambaran naskah. Simak adegan ciuman pertama yang enggan terburu-buru, sabar membangun tahap demi tahap pertukaran rasa melalui saling tatap dua pemain film utama.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Arini (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel