A Letter To The President (2017)

Selain mewakili Afganistan dalam ajang Academy Awards tahun depan, A Letter to the President mengundang perhatian sebagai film karya sutradara perempuan pertama pasca berakhirnya rezim Taliban, Roya Sadat. Mendirikan perusahaan Roya Film House di ruang bawah tanah apartemen, menjalani pengambilan gambar selama 40 hari secara sembunyi-sembunyi sambil mengurus bayinya, menanggung biaya produksi sendiri dengan menjual kendaraan, apartemen, juga perhiasan. Perjuangan berat itu terbayar lunas tatkala sekitar 60 orang penonton lokal kompak bertepuk tangan merespon adegan terbaik filmnya.

Respon itu mengejutkan Roya, mengingat A Letter to the President berani menggoncang patriarki yang turun temurun diberlakukan di Afganistan menurut interpretasi semau sendiri terhadap aturan Islam. Sesuai judulnya, tokoh utama film ini, Soraya (Leena Alam) mengirim surat untuk Presiden Afganistan (Mammnon Maghsodi), mengharapkan proteksi sehabis dirinya divonis mati oleh pengadilan. Lalu kisahnya kembali ke belakang, mengungkap kejahatan yang dituduhkan ke Soraya yang berprofesi sebagai kepala divisi penegakan kriminal di Kabul. 
A Letter to the President menunjukkan mengapa film pengusung feminisme sebaiknya ditangani pula oleh wanita. Roya melahirkan sosok Soraya yang kokoh, pantang mundur sekaligus berani melawan tekanan laki-laki yang merasa maskulinitas serta harga diri mereka tercoreng. Diawali keputusannya enggan menyerahkan perempuan pelaku zina pada tetua setempat guna diadili, Soraya menciptakan Komandan Essmat (Abdul Qader Aryaee) selaku anggota Taliban penguasa Kabul, mertuanya (Asad-Ullah Tajzai) yang seorang gangster, dan suaminya, Karim (Mahmood Rub), kebakaran jenggot. 

Kecuali bagi kaum seksis, sejam pertama A Letter to the President begitu mengobrak-abrik emosi. Pekerjaan Soraya yang memaksanya kerap pulang malam dipandang malu keluarga, sementara Karim terhina akhir sang ayah menganggapnya laki-laki tak berkhasiat yang gagal mengatur istri. Ketidakadilan plus kemunafikan sistem patriarki berkedok syariah mencapai puncaknya sewaktu Karim bebas mabuk-mabukan hingga larut, bahkan menenggak alkohol di depan anak-anaknya. Sebaliknya, ketika mendengar kabar Soraya menyentuh minuman keras di suatu pesta yang belum tentu faktual, Karim naik darah, mencap Soraya perempuan amoral, menodongkan pistol di kepala istrinya. 
Tindakan adikara laki-laki ialah racun di sini, termasuk yang tidak disadari, menyerupai ketika kebodohan Behzad (Aziz Deldar) si fotografer memberi imbas paling destruktif bagi Soraya. Tapi Soraya menolak hancur. Disokong kilatan mata Leena Alam yang tak pernah redup seberat apapun cobaan mendera. Soraya melangkah mantap, menghadiahi kita salah satu adegan paling powerful dalam sejarah sinema feminis berupa tamparan telak di wajah penindas hak wanita. Tidak hanya 60 penonton Afganistan saja yang bertepuk tangan, saya pun sontak melaksanakan hal serupa. 

Babak simpulan A Letter to the President, ketika fokus berpindah menuju pemeriksaan Behzad, lebih banyak menyoroti para laki-laki ketimbang Soraya, yang notabene merupakan daerah nyawa filmnya bersemayam. Beberapa pengadeganan terkesan menyeret, tidak begitu solid membangun suasana "berpacu dengan waktu", berujung melemahkan intensitas pula konklusi yang mestinya menciptakan kita tersentak. Untungnya, kekurangan tersebut urung menahan laju A Letter to the President menyeruak di jajaran film terbaik sekaligus terpenting tahun ini. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "A Letter To The President (2017)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel