Tusuk Jelangkung: Di Lubang Buaya (2018)

Welcome to another episode of “The Unlucky, Ugly, Very Very Gloomy Day of Rasyid Harry”. Setelah semesta sempat berpihak sehingga saya berkesempatan melewatkan Arwah Tumbal Nyai: Part Nyai dan Wengi: Anak Mayit, niatan untuk tidak menonton Tusuk Jelangkung: Di Lubang Buaya pun timbul lantaran saya ingin fokus memanjakan diri dengan JAFF dan JCW. Sayang seribu sayang bisikan iblis tiba lagi, kali ini dalam wujud Josep Sibuea (Postingan Biasa), yang didorong kemurahan hatinya, membuatkan voucher semoga saya bersedia (dengan amat sangat terpaksa) menonton horor memabukkan ini. “Biar lo sanggup ikut ngetawain”, begitu katanya.

Tapi saya orangnya optimistis. Mustahil film ini—yang berdasarkan sutradara Erwin Arnada (Guru Ngaji, Nini Thowok) bukan sekuel atau remake Tusuk Jelangkung (2002) melainkan revitalisasi—seburuk itu. Benar saja, optimisme saya terbukti. Tusuk Jelangkung: Di Lubang Buaya memang suguhan inovatif. Didorong impian tampil beda, sebagaimana Tommy Wiseau membuat drama yang berbeda lewat The Room, aneka macam formula didobrak, pemahaman gres pun dimunculkan.

Mungkin cuma alur dalam naskah goresan pena Sigit saja yang formulaik, yakni perihal kenekatan kakak-beradik vlogger, Sisi (Nina Kozok) dan Arik (Rayn Wijaya), menyatroni tempat menakutkan Taman Lubang Buaya demi memuaskan satu juta subscribers mereka. Tentu setibanya di lokasi, mereka mendapati diri tidak berdaya di hadapan para hantu. Apalagi ketika boneka jelangkung yang karenanya lepas dari kebotakan menahun turut ambil bagian.

Erwin menolak menawarkan riasan bubur busuk khas horor murahan negeri ini. Saya mengapresiasi itu, walau salah satu wajah hantu terang memalsukan Smiley (2012); satu hantu bayi CGI sukses membuat wanita di belakang saya berujar, “Yah, nggak jadi takut deh...”; dan sosok misterius bertanduk selaku antagonis utama nampak kolam cosplayer prajurit Viking yang tersesat di alam gaib. Bukan masalah, alasannya terpenting ialah niat TAMPIL BEDA.

Pada dinding kamar protagonisnya, terpasang beberapa sasaran lokasi menakutkan untuk dikunjungi serta hasil-hasil riset. Terpampang pula foto Slenderman dilengkapi goresan pena “Hantu Kepala Buntung”. Saya gres tahu dua mitologi tersebut berkaitan. Saya pun gres tahu jikalau hantu kepala buntung rupanya kepalanya tidak buntung. Terima kasih Tusuk Jelangkung: Di Rumah Buaya, saya yang amatir soal ilmu perdemitan ini jadi tercerahkan.

Seperti judulnya, Tusuk Jelangkung: Di Lubang Buaya—atau demi mempermudah kita sebut saja Tusuk Lubang—berlokasi di lubang buaya. Tapi ingat, ini film inovatif, sehingga lubang buaya yang dimaksud pun bukan terletak di Jakarta, melainkan Bali. Menurut Erwin, Taman Lubang Buaya di bali dahulu digunakan untuk melatih buaya sebelum ditinggalkan dan kini dianggap angker. Saya tidak menemukan hasil pencarian untuk tempat tersebut di Google, tapi mungkin saja lantaran letaknya amat tersembunyi. Sebab tidak mungkin jikalau pembuat film ini hanya mengarang kisah kan? Iya kan???

Menariknya, ada salah satu tokoh pendukung, yakni Kepala Desa setempat yang diperankan Slamet Ambari. Dari Turah (2016), kita tahu bahwa Slamet berlogat ngapak, dan di sini, logat itu terdengar begitu kental. Mari beri tepuk tangan bagi Tusuk Lubang yang berpartisipasi menegakkan diversity. Memang kenapa jikalau orang berlogat ngapak jadi Kades di Bali? Itu hak semua WNI, bung! Saya hanya kecewa ia tidak diberi dialog,”Bli, nyong kencot kiye, nganti mumet endhase lah, tulung”.

Kecewa, alasannya tokoh lain memperoleh banyak obrolan gila yang tak terdengar ibarat interaksi antara manusia. Satu lain poin menarik terkait penulisan naskah ialah mantra Jelangkung yang kembali diganti. Setidaknya, “Datang untuk dimainkan, hilang untuk ditemukan” lebih yummy didengar ketimbang “Datang gendong, pulang bopong”. Hebatnya, mantra itu segera dimodifikasi lagi oleh Nina Kozok, menjadi “Datang untuk dimainkan, please help me find something”. Terima kasih Tusuk Lubang, saya yang amatir soal ilmu perdemitan ini jadi tahu bekerjsama hantu kini sudah mengikuti tren multilingualisme.

Tusuk Lubang nantinya berpuncak pada perjuangan Arik bersama kekasihnya, Kanya (Anya Geraldine), menyeamatkan Sisi yang terperangkap di alam gaib. Saya suka melihat Rayn dan Anya berakting di satu layar. Keduanya sungguh pemberani. Lihat saja, ketika ada hantu kain terbang, ekspresi mereka datar-datar saja, seolah itu hanya kain kiloan biasa yang dijual di Mayestik.

Apakah Tusuk Lubang menyeramkan? Tentu tidak. Ingat, ini sajian inovatif, horor pendobrak batas yannng tujuannya bukan lagi menakut-nakuti penonton, namun memancing tawa. Erwin paham betul tujuan itu, kemudian menentukan sudut-sudut kamera yang sama sekali tidak menstimulus rasa takut. Sungguh jeli sutradara kita ini! Bahkan sampai akhir, Tusuk Lubang masih sempat mengutarakan pesan soal penghematan air. Pesan ibarat apa? Saksikan saja sendiri, tapi hati-hati. Menonton film ini memberi sensasi seolah lubang anda sedang ditusuk-tusuk.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tusuk Jelangkung: Di Lubang Buaya (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel