The Mule (2018)

Melalui The Mule, Clint Eastwood membuat dunia yang mengedepankan code of honor. Hampir semua huruf saling memperlakukan satu sama lain dengan rasa hormat, walau mereka yakni kartel narkoba kejam, atau polisi dan sang buruan. Hasilnya yakni film kriminal yang lembut meski tak jarang perih, senada dengan situasi hidup protagonisnya yang telah berusia 90 tahun.

Apakah citra tersebut terlalu naif untuk mewakili kejamnya dunia sekarang? Mungkin The Mule bukan potret akurat, tapi pilihan itu pun bukannya tanpa tujuan. Earl Stone (Clint Eastwood)—yang sosoknya dibentuk menurut artikel The New York Times berjudul The Sinaloa Cartel's 90-Year-Old Drug Mule mengenai dongeng hidup Leo Sharp—diperlakukan dengan baik, bahkan pelan-pelan tampak dekat dengan anggota kartel tempatnya bekerja sebagai kurir narkoba. Tapi kondisinya berbanding terbalik bila membicarakan keluarga, yang selama bertahun-tahun jarang ia perhatikan.

Jangankan program makan bersama, Earl bahkan mangkir dari ijab kabul puterinya. Dia menyibukkan diri dalam pekerjaan, entah melanglang buana di jalan atau menanam bunga di kebun. Pesannya jelas: Anda takkan sepenuhnya jadi orang terhormat bila belum memperlakukan keluarga dengan baik. Karena keluarga wajib dinomorsatukan.

Tapi bagaimana laki-laki 90 tahun dapat menjadi kurir narkoba? Pertama, ia terbiasa berkendara jarak jauh di jalanan (pernah mengunjungi 47 dari total 51 negara bagian) sehingga ia paham mana metode yang terbaik. Kedua, siapa bakal meragukan laki-laki tua? Ketika polisi menghampirinya, berkat sedikit trik cerdik, Earl mampu lolos biarpun seekor anjing K9 turut berada di sana. Tidak butuh waktu lama, Earl merebut tahta kurir terbaik pasca secara konsisten, mengirim ratusan kilogram narkoba setiap bulan.

Awalnya, Earl bersedia mengambil pekerjaan itu akhir tak lagi mempunyai tujuan sehabis rumah dan kebunnya disita. Sampai tujuan-tujuan sederhana yang menginjeksi The Mule dengan bobot rasa mulai ia temukan, sebutlah membantu biaya kuliah dan ijab kabul sang cucu (Taissa Farmiga) sampai menghidupkan lagi kafe kawasan berkumpulnya para veteran.

Eastwod tepat mengisi kiprah sebagai Earl, si laki-laki renta tangguh yang demi kelancaran misinya berlagak ringkih di luar, walau sejatinya ia memang ringkih di dalam. Wajah keras yang jadi ciri khasnya masih terpampang jelas, namun kini, di usia 88 tahun fisiknya terang makin lemah. Dibanding kemunculan terakhirnya sebagai pemain drama di Trouble with the Curve tujuh tahun lalu, sang legenda nampak ringkih, yang justru ia manfaatkan untuk memperkuat performanya. Gestur, ekspresi, sampai tutur kata Eastwood mencerminkan bermacam-macam kebimbangan serta penyesalan seorang laki-laki di hari tua.

Sulit menahan pertanyaan, “Dari mana datangnya energi dan pengabdian itu?”. Sebab untuk pertama kali semenjak Gran Torino 10 tahun lalu, Eastwood melakoni kiprah ganda sebagai pemain drama sekaligus sutradara. Selaku sutradara, pengalaman empat dekade Eastwood dapat kita rasakan. Dia enggan memaksakan dramatisasi. Momen paling menyentuh hadir lewat dialog hati ke hati sederhana namun penuh kejujuran, sedangkan pertemuan pertama Earl dengan Colin Bates (Bradley Cooper), biro DEA yang ditugaskan meringkusnya, terjadi dalam situasi yang sangat kasual tapi meninggalkan kesan kuat.

Naskah garapan Nick Schenk (Gran Torino, The Judge)—yang bersedia melontarkan barisan celetukan menggelitik meski sarat kontemplasi—juga bertutur soal sosok dari masa kemudian yang tak ubahnya fosil hidup, yang coba berubah mengikuti perkembangan. Earl tidak dapat mengirim SMS, membenci internet, gres mengenal Dykes on Bikes, juga secara kasual melontarkan ucapan bernada rasisme. Sepanjang jalan mengantarkan narkoba, Earl menyaksikan dunia modern yang gres dikenalnya, kemudian dengan bahagia hati menyesuaikan diri.

The Mule bagai perilaku laki-laki renta terhadap kalimat “Live your life to the fullest”. Earl selalu berusaha menikmati hidup sebisa mungkin, dan ia terpaksa membayar itu dengan kehilangan keluarga. Dan tidakkah begitu besar rasa sakit juga penyesalan yang menghampiri begitu kita menyadari itu, tetapi terlanjur kehabisan waktu guna menebus segalanya?  

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "The Mule (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel