Spider-Man: Into The Spider-Verse (2018)

Walau mengadaptasi konsep komik Spider-Verse, film ini memang tidak pernah diniati untuk memberikan paparan kompleks soal multiverse. Bagi anak-anak, Spider-Man: Into the Spider-Verse akan bekerja sebagai dongeng ihwal “memperoleh kekuatan besar lantaran kasih sayang”. Dan tentu, pada akhirnya, selaku film Spider-Man, kekuatan besar itu bakal mendatangkan tanggung jawab besar. Bagi penonton cukup umur terlebih pembaca bukunya, ini merupakan salah satu film buku komik paling memuaskan, yang memanfaatkan konsep multiverse untuk membuat crossover mengasyikkan penuh aksara berwarna dan visual memesona.

Fokus kisah diberikan kepada Miles Morales (Shameik Moore), aksara separuh Puerto Riko, separuh Afrika-Amerika, yang mengawali karir sebagai insan laba-laba di Ultimate Comics: Spider-Man pasca maut Peter Parker. Miles tengah kesulitan mengikuti keadaan di sekolah barunya yang ia sebut “elitis” sekaligus merasa tertekan oleh tuntutan sang ayah (Brian Tyree Henry). Sampai dua bencana mengubah hidup Miles: Memperoleh kekuatan Spider-Man sehabis digigit oleh laba-laba radioaktif dan menyaksikan maut Spider-Man alias Peter Parker (Chris Pine) di tangan Kingpin (Liev Schreiber).

Peter tewas kala berusaha menghentikan Kingpin membuka portal semesta paralel guna mengembalikan keluarganya yang telah tiada. Tanpa Peter, Miles “tersesat”, tidak tahu bagaimana menyikapi kekuatan barunya. Hingga terungkap bahwa aktivasi mesin pengakses semesta paralel milik Kingpin turut membawa banyak sekali versi insan laba-laba lain ke dunia Miles. Dari sinilah kesenangan sebetulnya dimulai.

Kita dibawa berkenalan dengan bermacam-macam tokoh menarik: Spider-Gwen (Hailee Steinfeld) yang berjiwa bebas, Spider-Man Noir (Nicolas Cage) yang memarodikan sisi misterius dan dramatis aksara di dongeng noir, Peni Parker (Kimiko Glenn) yang nampak bagai keluar dari anime, Spider-Ham (John Mulaney) yang takkan absurd bila menjadi salah satu anggota Looney Tunes, serta versi lain dari Peter Parker (Jake Johnson). Bedanya, Peter satu ini gulung tikar tanggapan investasi buruk, diceraikan Mary Jane lantaran takut mempunyai anak, dan menjadi pecundang yang bermalas-malasan hingga perutnya membuncit.

Perjalanan alurnya berkutat soal bagaimana Miles dan Peter sama-sama membutuhkan bimbingan. Miles butuh diajari cara memakai kekuatannya, sedangkan Peter perlu membangkitkan kepercayaan diri sehabis rentetan kegagalan hidup. Into the Spider-Verse sayangnya kurang mulus mempresentasikan proses relasi keduanya, di mana pada satu titik Peter masih terganggu akan kehadiran Miles, namun tak usang kemudian, pasca agresi singkat, ia menyatakan gembira terhadap si remaja. Dengan kata lain, terburu-buru.

Hal di atas bisa sedikit melucuti hati filmnya, tapi tidak daya hiburnya. Film ini diproduseri duet Lord-Miller, serta ditulis naskahnya oleh Phil Lord (Cloudy with a Chance of Meatballs, The Lego Movie) dan Rodney Rothman (Grudge Match, 22 Jump Street), sehingga anda bisa mengharapkan kemunculan lawakan meta, khususnya seputar sejarah panjang Spider-Man, yang bertebaran semenjak sekuen pembuka hingga post-credits scene.

Aspek komedinya menyenangkan, tapi elemen terkuat Into the Spider-Verse ialah visual, gelaran aksi, ditambah bagaimana tokoh-tokohnya yang kaya warna saling berinteraksi. Di jajaran insan (plus babi) laba-laba, hanya Miles dan Peter (dan Gwen walau belum sesolid keduanya) yang layak disebut “tiga dimensi”, tapi mereka sanggup menjalin ikatan menghibur yang bisa membuat penontonnya berharap disuguhi lagi dan lagi. Para villain tak kalah mencuri perhatian, dengan Kingpin ditempatkan di sentral cerita.

Jika anda menonton serial Daredevil di Netflix, anda tentu paham bagaimana Kingpin alias Wilson Fisk berjalan di area abu-abu nan ambigu, di mana ia melaksanakan banyak hal keji didorong luka personal. Begitu pula di sini. Bahkan resolusi bagi kisahnya jadi cabang alur yang paling memanfaatkan konsep multiverse, yang sayangnya tidak terlalu menguras emosi menyerupai seharusnya, lantaran mau tak mau, dengan durasi cuma 117 menit, ia mesti menyerah untuk memberi porsi kepada para titular characters.

Spider-Man: Into the Spider-Verse merupakan pola cara memaksimalkan animasi sebagai medium yang meniadakan batasan imajinasi. Penyutradaraan trio Bob Persichetti, Rodney Rothman, dan Peter Ramsey (Rise of the Guardians) tepat menangkap ide, “Apa jadinnya bila enam insan laba-laba beraksi bersama”. “Kameranya” bergerak bebas tatkala masing-masing pahlawan kita berayun di udara, melaksanakan banyak sekali agresi akrobatik, menghasilkan sensasi serupa membaca komik sewaktu gaya visualnya mencerminkan gambar-gambar di panel buku komik.

Speech balloons, berbagai teknik pewarnaan yang memunculkan beraneka tekstur gambar, serta kekhasan-kekhasan visual komik Spider-Man sanggup anda temukan. Dalam parade visual yang membuat The Lego Movie (2014) nampak pucat bila disandingkan, Spider-Man: Into the Spider-Verse mencampurkan warna serta gaya sebanyak mungkin tanpa harus jatuh ke dalam kekacauan tak terkontrol. Berkat kerja keras 142 animator (kru terbanyak sepanjang sejarah Sony Pictures Imageworks), terciptalah keriuhan menyenangkan, apalagi sewaktu klimaksnya mencampurkan segala materi dan bumbu menjadi satu menu lezat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Spider-Man: Into The Spider-Verse (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel