Satu Suro (2019)

Satu Suro—yang tidak berkaitan dengan Malam Satu Suro (1988) yang dibintangi Suzzanna—dibuat kolam hanya menurut satu-dua gagasan adegan menarik. Jika diibaratkan, layaknya arsitek yang mempunyai beberapa perabotan berharga, kemudian ingin membangun rumah untuk menyimpannya, namun tak bisa mendesain pondasi memadahi. Rumah tersebut pun runtuh, mengubur perabotan berharga sang arsitek yang karenanya terbuang sia-sia.

Saya cukup mengagumi sekelumit inspirasi yang sesekali mengisi. Salah satunya ketika Adinda (Citra Kirana) muntah beberapa kali, dan benda-benda yang keluar dari mulutnya semakin berbahaya dan aneh, sebelum memuncak pada sebuah pemandangan over-the-top sekaligus disturbing , tapi memuaskan. Begitu pula selipan gore, yang sayangnya hanya bertahan di paruh awal. Saya yakin ada lebih banyak lagi, tapi terpaksa dihapus atas nama sensor (tulisan “REV” terpampang di bumper sensor filmnya).

Selain segelintir daya tarik di atas, Satu Suro tak mengatakan hal apa pun, termasuk plot yang seolah lenyap di alam gaib. Alkisah, sepasang suami istri, Bayu (Nino Fernandez) dan Adinda gres saja pindah ke desa terpencil di kawasan pegunungan demi mencari ketenangan. Bayu membutuhkannya untuk menulis buku terbaru, sementara Adinda mesti menjaga kondisi jelang kelahiran bayi pertama mereka. Betapa sial, hari kelahiran yang dinanti justru datang sempurna di malam satu suro yang banyak dipercaya sebagai “lebarannya para setan”.

Begitu proses persalinan mendekat, Bayu membawa Adinda ke rumah sakit, yang lewat adegan pembukanya, kita ketahui telah terbakar habis. Mereka tidak tahu bahwa dokter serta suster yang menyambut sejatinya yaitu arwah-arwah yang berdiri pada malam satu suro guna mengincar si jabang bayi. That’s it. Sepanjang bergulir selama 94 menit, mudah Satu Suro cuma menampilkan dua orang mondar-mandir dalam ruangan (rumah atau rumah sakit). Tapi daripada jalan keluar, malah gugusan hantu yang muncul.

Padahal sungguh keras perjuangan Bayu dan Adinda untuk saling menemukan. Begitu keras, keduanya menghabiskan nyaris sepanjang film meneriakkan nama satu sama lain. Kalau anda memainkan drinking game, dan minum setiap mereka saling memanggil, anda akan mabuk bahkan sebelum filmnya usai. Paling tidak, serupa di Asih, Citra Kirana melaksanakan perjuangan terbaiknya sebagai perempuan yang mengalami teror bertubi-tubi, tatala Nino Fernandez tampak kebingungan harus memasang ekspresi mirip apa.

Naskah buatan Anggy Umbara (3, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!) dan Syamsul Hadi (Pencarian Terakhir, Demi Cinta) gemar menerapkan repetisi sebagai trik pengisi durasi. Hal sama terjadi berulang-ulang dalam tempo yang pergerakannya bagai diseret selama mungkin. Ketimbang memperlambat demi membangun ketegangan, penanganan Anggy bagai hanya bertujuan mengulur waktu. Dampaknya, kengerian pun sukar ditemukan. Saat Lastri (Alexandra Gottardo) si hantu antagonis utama kemunculannya meninggalkan kesan mengesalkan alih-alih mengerikan akhir efek teriakan yang cukup mengancam kewarasan indera pendengaran penonton, kebanggaan patut diberikan kepada beberapa hasil kerja tim tata rias, khususnya untuk sebuah hantu (atau monster?) yang mengingatkan aku pada makhluk dari Resident Evil atau Left 4 Dead.

Dibuka oleh narasi tentang satu suro, eksplorasi mitologi film ini tidak pernah lebih dalam dari deskripsi “hari rayanya makhluk halus”, sebab kembali, Satu Suro nyaris tanpa plot. Hal terdekat dengan plot yang filmnya miliki yaitu kehadiran twist, yang menggiring Satu Suro menuju ranah yang sudah terlalu banyak dijelajahi suguhan horor lokal selepas Pengabdi Setan dua tahun lalu. Elemen familiar nan sederhana, yang penuturannya sangat berbelit sebab mirip biasa, Anggy terobsesi mengejutkan penonton. Upaya tersebut gagal akibat: (1) Klise dan gampang ditebak, (2) Tidak dibarengi plot layak biar penonton mempedulikan karakternya.

Satu Suro turut memaksakan diri menyelipkan sentuhan religi berupa proses seorang skeptis menemukan lagi keimanan, namun tidak terdapat cukup stimulus guna memancing respon perubahan tersebut. Mengalami insiden mistis bukan berarti serta merta menciptakan seseorang menjadi religius. Kecuali, ia melihat bagaimana kekuatan Tuhan berjasa memberi jalan keluar. Sedangkan di sini, hantu-hantu ditumpas memakai “metode dukun”.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Satu Suro (2019)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel