Mard Ko Dard Nahi Hota (2018)

Mard Ko Dard Nahi Hota, atau yang mempunyai judul internasional The Man Who Feels No Pain, mengisahkan dua jenis manusia: Seorang laki-laki yang tak bisa mencicipi sakit dan perempuan sering mencicipi sakit tapi tak pernah mengeluhkannya. Penokohan itu saja sudah cukup menyuntikkan dinamika menarik dan sedikit sentuhan humanistik dalam film penuh baku hantam yang memenangkan segmen Midnight Madness pada ajang Toronto Internasional Film Festival tahun lalu.

Sang laki-laki berjulukan Surya (Abhimanyu Dassani), menderita congenital insensitivity to pain, sebuah kelainan medis langka yang meniadakan kemampuannya mencicipi sakit. Hal itu membuat sang ayah (Jimit Trivedi) berusaha membatasi pergerakan Surya, termasuk mengikat tangan dan kakinya, serta memakaikannya goggles. Bisa dipahami, alasannya ialah Surya bisa terluka, berdarah, tulangnya bisa patah, namun ketiadaan rasa sakit membuatnya sulit mengukur seberapa ancaman suatu luka.

Surya kecil pun jarang keluar rumah, terlebih sesudah dikeluarkan dari sekolah lantaran terlibat perkelahian. Beruntung ia mempunyai sang kakek, yang diperankan Mahesh Manjrekar lewat gaya akting yang mengingatkan saya akan Rocky-nya Sylvester Stallone di dua film Creed (topi yang ia kenakan pun sama). Melalui sang kakek, Surya berkenalan dengan ratusan film tabrak yang ia saksikan melalui VHS. Dari situlah kepribadiannya terbentuk.

Semenjak itu, Surya bermimpi ingin menjadi martial artist biar bisa memberantas kejahatan. Intensi tersebut dipicu dua hal: Kematian sang ibu di tangan perampok kala gres melahirkan Surya dan lantaran ia sering menyaksikan sahabatnya, Supri (Radhika Madan), jadi korban tindak kekerasan oleh ayahnya yang pemabuk. Hingga Surya menemukan rekaman berisi kumite melawan 100 orang yang dijalani laki-laki berkaki satu misterius berjulukan Karate Mani (Gulshan Devaiah). Terpukau, Surya yang menghabiskan masa mudanya hanya berkutat di rumah pun belakang layar berlatih bela diri dan tumbuh sebagai petarung handal.

Tentu di realita kita takkan bisa semudah itu menguasai bela diri hanya lewat menonton film. Tapi Mard Ko Dard Nahi Hota memang bukan suguhan realis, bahkan cenderung menolak tampil serius. Ditulis sekaligus disutradarai Vasan Bala (Peddlers) yang terinspirasi dongeng seorang pasien dokter gigi yang tak memerlukan anestesi, film ini murni ingin bersenang-senang sebagaimana Vasan ingin mengulang kembali kebahagiaan masa kecilnya menyaksikan film-film laga. Mard Ko Dard Nahi Hota berusaha keras terlihat unik dan segar, yang mana cukup berhasil, walau di beberapa kesempatan justru membuatnya berantakan.

Progresi alurnya sengaja dikemas biar menjadikan kesan kacau. Sesekali adegan fantasi diterapkan untuk menggambarkan imajinasi Surya, yang awalnya terasa kreatif, namun seiring waktu mulai repetitif. Cara bertutur liar milik Vasan, ditemani penyuntingan cekatan Prerna Saigal (Peddlers, Bombay Velvet) sanggup menginjeksi energi sekaligus membantu komedinya mendarat sempurna sasaran, tapi cukup sering pula membuat kerumitan tidak perlu.

Pastinya, gaya-gaya di atas sukses menghindarkan filmnya dari kesan hambar. Dan begitu Surya tumbuh dewasa, kemudian memulai perjalanan memberantas kejahatan yang melibatkan idola dan sahabat masa kecilnya, kita pun mulai disuguhi banyak pertarungan tangan kosong keren, yang nampak bagai kombinasi agresi over-the-top India (meski belum segila judul-judul produksi Telugu alias Tollywood) dengan film kung-fu klasik asal China.

Menghabiskan tiga bulan pra-audisi plus delapan bulan di pra-produksi berlatih bela diri, Abhimanyu Dassani menampilkan atletisme luar biasa. Seluruh gerakannya meyakinkan, termasuk beberapa teknik akrobatik yang menjadikan banyaknya pemakaian gerak lambat sebuah keputusan tepat. Tidak kalah badass ialah Radhika Madan sebagai Supri. Aktris yang pernah terlibat di sinetron Cinta di Pangkuan Himalaya tak kenal ampun dalam menghajar lawan-lawannya, bahkan meski hanya bersenjatakan kain tipis. Sementara di elemen dramatik, keberadaan Supri menerangkan bahwa Bollywood selalu bersedia meluangkan waktu menyelipkan unsur female empowerment.

Berbeda dengan Surya yang bersikap polos lantaran tak pernah menatap dunia luar, Supri paham betul kerasnya realita. Terlalu paham malah. Hidup bersama ayahnya yang abusive semenjak kecil, menginjak usia dewasa, Supri mesti berurusan dengan laki-laki bermasalah lain, yakni calon suami yang selalu mengontrol kehidupannya. Bukan cuma kebebasan, ia pun menghalangi Supri menggunakan nuraninya untuk menolong orang. Hiburan dalam Mard Ko Dard Nahi Hota mungkin berasal dari si pendekar laki-laki yanng tak kenal rasa sakit, tapi pencuri hati bahwasanya justru si perempuan yang selalu mencicipi sakit, baik fisik maupun mental, tapi menentukan menghadapinya sebelum karenanya merasa cukup dan mendobrak tembok penghalang itu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mard Ko Dard Nahi Hota (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel