Lagi-Lagi Ateng (2019)

Lagi-Lagi Ateng merupakan korban dari marketing lemah. Kaum muda kini tidak terlalu mengenal sosok Ateng dan Iskak, lantaran film-film mereka yang “meledak” di masa 70-an mirip Ateng Minta Kawin (1974), Ateng Sok Tahu (1976), dan lain sebagainya, semakin jarang diputar di layar kaca. Melihat poster serta trailer, saya mewaspadai kemampuannya memikat penonton baru. Sebelum menontonnya, jikalau ada yang menyebut Lagi-Lagi Ateng layak menjadi kandidat awal film Indonesia terbaik 2019, saya hanya akan tertawa tak percaya.

Tapi begitulah kenyataannya. Saya bisa melihat karya terbaru Monty Tiwa (Rompis, Critical Eleven, Kapan Kawin?) ini bertengger di beberapa daftar film terbaik simpulan tahun nanti. Para pembuatnya sadar, untuk memenangkan penggemar baru, komedi beraroma nostalgia saja tidak cukup, sehingga dihembuskanlah drama keluarga kaya rasa. Elemen yang sayangnya gagal dipresentasikan bahan promosinya, yang berakibat banyak berkurangnya jumlah layar di hari kedua penayangan.

Sekitar 30-45 menit pertama memang murni komedi, mengatakan kehidupan Ateng (Augie Fantinus), laki-laki 26 tahun dengan tingkah kolam bocah lantaran amat dimanjakan oleh ayahnya, Budiman (Surya Saputra), yang juga seorang bangsawan. Sebagai kado ulang tahun, Ateng meminta diperbolehkan berlibur ke Jakarta. Walau awalnya menolak, Budiman jadinya mengizinkan, selama Iskak (Soleh Solihun) turut serta demi menjaga puteranya.

Cukup melihat bagaimana semua lelucon disatukan, terperinci bahwa Lagi-Lagi Ateng bukan komedi sembarangan. Naskah buatan Monty tidak asal mengumpulkan materi-materi humor acak guna disatukan paksa menyerupai sketsa. Lucu, ditambah penghantaran tepat dari kedua pemain film utama, tersajilah kumpulan humor yang bergerak mulus sebagai narasi utuh berstruktur rapi.

Satu detail menarik lain terletak pada kemasan bagi kamar Budiman. Tata artistik garapan sutradara video klip veteran Tepan Cobain (Mau Kaprikornus Apa?, Reuni Z) serta bagaimana sinematografer Anggi Frisca (Night Bus, Sekala Niskala, Negeri Dongeng) memainkan pencahayaan ialah sesuatu yang jarang kita temui di komedi-komedi dalam negeri kebanyakan.

Sesampainya di Jakarta, Ateng bertemu Agung (Augie Fantinus), motivator dengan slogan “Masa kemudian ditambah masa kini sama dengan masalah” yang rupanya ialah saudara kembarnya. Mereka berdua terpisah seiring perpisahan Budiman dengan sang istri, Ratna (Unique Priscilla). Didorong inspirasi dari ajun Agung, Cemplon (Julie Estelle), reuni kakak-beradik ini segera bermetamorfosis rencana gila: Ateng dan Agung bertukar posisi guna bertemu orang bau tanah yang belum pernah mereka kenal.

Di dalam dongeng ala The Parent Trap ini, mengasyikkan mengamati Augie silih berganti memainkan dua tokoh dengan sifat berkebalikan, walau di beberapa kesempatan, ia sendiri bagai kebingungan tengah memerankan siapa. Ateng? Agung? Ateng yang menjadi Agung? Atau sebaliknya? Tapi di samping itu, Augie bersama Soleh Solihun terbukti merupakan duet kematian wacana melontarkan dagelan khas Ateng-Iskak yang efektif mengocok perut. Tidak kalah menghibur tentu saja Julie Estelle lewat tugas paling komedik sepanjang karirnya.

Begitu rencana Cemplon dieksekusi, Lagi-Lagi Ateng mulai merambah jalur drama, di mana humor berdaya bunuh tinggi tetap menyeruak di sana-sini. Berkat kemahiran Monty Tiwa menyusun momen emosional, dramanya sukses mencuri hati. Monty kolam tengah “panas” di sini. Kita bisa mengambil adegan dramatik mana pun dari Lagi-Lagi Ateng, kemudian menjadikannya klimaks emosi di film lain. Selaku penulis naskah pun, Monty terbukti piawai merangkai kata. Dia tahu cara memancing rasa dari kata-kata singkat, sederhana, namun bermakna, sebutlah dikala Budiman bertanya kepada Ratna, “Di mana istriku?”.

Keberhasilan dramanya turut dilatari penampilan apik dua pemain film orang tua. Surya Saputra selalu menyentuh hati tiap Budiman mengenang masa indah bersama Ratna, kemudian mulai bicara sambil menahan air mata. Demikian pula Unique Priscilla, yang “ketiban sial” lantaran harus mendapati momen unscripted kala Surya Saputra “mengunjungi” masa lalunya sebagai personel boy band.

Jikalau elemen melodrama film ini mempunyai kelemahan, itu tak lain kuantitas yang agak terlalu banyak. Beberapa titik jelang simpulan mungkin takkan lagi memancing haru, alasannya adegan-adegan yang hadir sebelumnya telah menempatkan standar tinggi. Tidak peduli seberapa berkualitas, ketika suatu hal diulang terus-menerus, cepat atau lambat, pasti kekuatannya bakal melemah.

Saya mendorong anda menonton film ini segera, sembari berharap Lagi-Lagi Ateng akan menerima sedikit suplemen layar yang mana layak didapatkan. This movie will give you big laughs and also (surprisingly) has a big heart too. Pada simpulan film, tampak foto Ateng dan Iskak tersenyum lebar. Mungkin itu reaksi mereka tatkala menyaksikan tribute ini dari surga.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Lagi-Lagi Ateng (2019)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel