Gully Boy (2019)

Suguhan menyerupai Gully Boy merupakan alasan mengapa saya bersemangat menantikan film Bollywood tiap ahad meski harga tiketnya lebih tinggi. Para sineasnya piawai mewakili bunyi kaum yang ditekan. Bukan saja memotret kesulitan hidup, pula menyediakan suaka di mana rakyat kecil, minoritas, maupun korban represi punya kesempatan berjuang, sementara mereka yang lebih beruntung coba dibangkitkan nuraninya demi menumbuhkan kepedulian berasaskan kemanusiaan.

Film ini dibentuk berdasarkan kisah hidup Naezy dan Divine, dua figur penting dalam pergerakan skena hip-hop Mumbai. Kemiskinan dan ketidakadilan di sekitar jadi sumber ilham karya mereka. Dalam menuturkan itu, sutradara Zoya Akhtar (Bombay Talkies, Dil Dhadakne Do) yang turut menulis naskahnya bersama Reema Kagti (Dil Dhadakne Do, Gold), kentara memahami substansi kultur hip-hop sebagai bentuk perlawanan terhdap kungkungan sosial-masyarakat.

Murad (Ranveer Singh) yaitu laki-laki muslim yang tinggal di perkampungan kumuh. Sang ayah (Vijay Raaz)—yang menikah lagi kemudian membawa istri keduanya ke rumah—selalu menyuruh Murad “menundukkan kepala”, menyadari takdirnya sebagai rakyat kecil yang tak pantas bermimpi besar. Murad pun hanya bisa membisu menurut. Bait-bait rima tulisannya jadi satu-satunya daerah di mana Murad bebas menyuarakan isi hati. Dia jatuh cinta pada musik rap.

Murad menjalin asmara dengan Safeena (Alia Bhatt), gadis dari keluarga bisa yang bercita-cita menjadi hebat bedah, meski ibunya beranggapan bahwa perempuan tak memerlukan pendidikan tinggi. Keduanya terpaksa selalu rahasia bertemu di bus, alasannya yaitu lebih banyak didominasi orang di sekeliling mereka, termasuk orang bau tanah Safeena, yaitu muslim konservatif yang menganggap pacaran sebagai tindakan tak bermoral.

Murad dan Safeena muncul bersama di layar untuk pertama kali lewat salah satu momen romansa non-verbal termanis yang pernah saya saksikan. Saya takkan menjabarkan detail situasinya, kecuali bahwa still photo adegan tersebut dipakai sebagai bahan poster filmnya. Hanya melalui satu adegan itu, saya pribadi terpikat pada pasangan ini. Terlebih, Ranveer Singh dan Alia Bhatt bisa memproduksi chemistry sempurna, di mana sang aktris menampilkan akting berapi-api sebagai “gadis senggol bacok” yang tak segan melaksanakan tindak kekerasan terhadap perempuan yang ingin “mencuri” sang kekasih.

Peluang Murad memasuki skena rap datang sehabis bertemu MC Cher (Siddhant Chaturvedi) di sebuah pertemuan komunitas rap bawah tanah. Walau masih hijau dan perlu banyak berguru lagi perihal permainan beat, Sher mengakui infinit Murad dalam menulis bait yang meskipun indah, begitu tajam pula jujur menangkap realita kalangan bawah.

Ada begitu banyak hal coba dipaparkan Gully Boy selama durasinya yang menyentuh 153 menit. Tidak ada semenitpun terbuang sia-sia dalam penuturan bertele-tele, tapi harus diakui, terlampau banyak permasalahan dipadatkan secara paksa. Menyatukan pengalaman aktual dua sosok manusia, Gully Boy bagai berhasrat mengumpulkan sebanyak mungkin dongeng wacana para pencari kebebasan. Mulai dari pergulatan Murad guna pertanda kemampuannya meraih mimpi, keresahan perihal jomplangnya kesejahteraan masyarakat, kemiskinan yang mendorong kriminalitas, kekolotan teladan pikir termasuk mengenai cara publik memandang wanita, dan seterusnya.

Setiap gosip memancing subplot baru, yang sesekali melelahkan diikuti dan berisiko merusak momentum. Beruntung, deretan problematikanya relatable, sehingga gampang memancing pemberian bagi tokoh-tokohnya. Kita ikut merasa terpuruk dikala mereka dijatuhkan, dan akhirnya, dikala mereka bangkit, melawan, kemudian berjaya, kita bakal bersorak layaknya merayakan kemenangan besar.  

Penyutradaraan Zoya Akhtar cukup dinamis untuk mengikuti atmosfer yang dihasilkan jajaran lagu rap (beberapa dibentuk sekaligus dibawakan oleh Naezy dan Divine) yang setidaknya akan membuat anda terpengaruhi menggoyangkan kepala, terserap ke dalam hentakan adiktif juga permainan kata yang acap kali menggelitik. Sewaktu karakternya beradu rap, beberapa kalimat cacian ampuh memancing senyum, tawa, atau bahkan—seperti sekelompok penonton yang duduk di depan saya—teriakan selaku ungkapan kekaguman atas “serangan brutal” tiap rapper.

Ranveer membuat protagonis likeable dalam transformasi perlahan Murad dari laki-laki tertekan yang menentukan membisu menjadi sosok tangguh yang bersedia berdiri untuk melawan. Semua dipicu proses bermusiknya. Dan di atas panggung, Ranveer meyakinkan kala menjadi pemimpin kharismatik yang mengomandoi ratusan penonton untuk bernyanyi bersama, menyatukan teriakan perlawanan yang usang terpendam sampai menyesakkan dada.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Gully Boy (2019)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel