Glass (2019)

Unbreakable (2000) dan Split (2016) sukses berkat kemampuan menyembunyikan jati diri sebagai kisah asal muasal jagoan dan penjahat super, sehingga kejutan khas M. Night Shyamalan pun berhasil menghentak. Keduanya menyimpan “senjata” lain. Ketika Unbreakable adalah character-driven thriller sedangkan Split merambah area horor psikologis dengan pendekatan b-movie, Glass total berusaha menjadi “film pahlawan super bernuansa realistis yang unik”. Setidaknya unik berdasarkan sang sutradara.

Di sini Shyamalan bagai laki-laki yang tinggal di basemen rumah orang tuanya, berpikir dirinya seorang jenius yang melaksanakan gebrakan, tanpa tahu bahwa pandangan gres briliannya telah dianggap familiar oleh dunia luar. Glass ialah film yang terlambat dirilis satu dekade. Sekadar mengingatkan, konsep pahlawan super membumi, crossover, dan sentuhan meta kini sudah umum, wahai Mr. Night.

Setelah David Dunn (Bruce Willis) muncul di penghujung Split, hasilnya kita berkesempatan melihatnya bertemu Kevin (James McAvoy) si lelaki dengan 24 kepribadian, termasuk The Beast yang brutal. Pertemuan itu terjadi kala David—sekarang dipanggil The Overseer—tengah menyelidiki aneka macam kasus penculikan gadis remaja. Tapi penantian akan konforntasi perdana mereka berujung mengecewakan, sebab menyerupai telah kita saksikan dalam The Last Airbender (2010) dan After Earth (2013), Shyamalan bukan ahlinya menangani adegan laga.

Dia pun menyadari itu, dan segera membawa Glass menuju teritori kekuasaannya, tatkala David dan Kevin ditangkap, kemudian dijebloskan ke rumah sakit jiwa yang dikepalai oleh Dr. Ellie Stape (Sarah Paulson). Tempat itu juga jadi kurungan bagi Elijah Prince alias Mr. Glass (Samuel L. Jackson). Sang dokter percaya bahwa mereka mengidap delusions of grandeur, atau dengan kata lain, segala kekuatan yang ketiganya punya bukanlah kenyataan.

Disusun memakai tempo lambat khas Shyamalan, babak keduanya berpotensi menghasilkan psikoterapi penuh intrik, namun Shyamalan kentara tak menyimpan cukup pandangan gres guna menghasilkan naskah yang layak bagi film berdurasi lebih dari 2 jam. Setidaknya ada satu momen menarik, kala Dr. Ellie mengumpulkan tiga pasiennya, kemudian memberikan hipotesis-hipotesis meyakinkan, selaku penjelas mengapa segala agresi superhero itu hanya fantasi.

Tapi itu saja. Mayoritas babak keduanya sebatas selingan biar Shyamalan bisa memasukkan adegan provokatif di atas. Sisanya lemah. Kita sudah melihat cukup banyak eksplorasi bagi huruf David dan Mr. Glass di Unbreakable, demikian pula Kevin dalam Split. Apa yang Glass berikan cuma komplemen detail-detail minor. Dan sebagai suguhan berjudul “Glass”, film ini urung menyediakan porsi memadahi bagi sang dalang kejahatan tituler.

Sewaktu Bruce Willis lagi-lagi “tidur berjalan” sepanjang durasi alih-alih menampilkan akting subtil berpengaruh serupa di Unbreakable sebab memang sudah tak tersisa banyak kisah perihal David untuk diceritakan, James McAvoy menonjol sebagai elemen terbaik filmnya. Melihatnya beralih huruf sekejap mata sungguh memuaskan, terlebih ketika McAvoy menaruh perhatian sampai ke detail kecil dalam bahasa tubuhnya. Kita bisa menyadari pergantian kepribadian Kevin hanya lewat perubahan tempo pernapasan McAvoy (Patricia will always be his best, though).

Babak hasilnya merupakan kompilasi twist khas Shyamalan dengan showdown antara para insan super yang dikemas ala kadarnya mengisi di sela-sela. Terdapat satu twist apik, yang—sebagaimana formasi rujukan yang ditebar sepanjang film—agar bisa dirasakan dampaknya, anda harus menonton dua film sebelumnya. Sisanya mengecewakan. Shyamalan meluangkan banyak waktu menyiratkan bahwa sebuah kejutan besar bakal datang, hanya untuk menunjukkan sesuatu yang tak lagi Istimewa pada masa ketika film superhero setia mengisi layar lebar hampir dua bulan sekali.

Dia berlagak kolam andal “aturan” buku komik, memperlakukan penonton layaknya orang bodoh, dan mempersembahkan konklusi payah yang ia pikir merupakan bentuk world-building dramatis nan cerdas. Ketika elemen pahlawan super dan komiknya gagal, maka demikian pula keseluruhan filmnya. Karena sekali lagi, Glass tak mempunyai kamuflase layaknya dua pendahulunya. Ini ialah perjuangan membuat film pahlawan super segar, namun berujung memancing penonton berujar, “That’s it???”.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Glass (2019)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel