Gintama 2: Rules Are Made To Be Broken (2018)

Gintama 2: Rules Are Made to Be Broken merupakan perjuangan membuat konsistensi yang justru menghasilkan repetisi berbuah stagnansi. Masih disutradarai serta ditulis naskahnya oleh Yuichi Fukuda, sekuel yang sempat 2 ahad merajai Box Office Jepang ini punya segala teladan film pertama, yang juga ciri khas sumber adaptasinya, manga Gin Tama karya Hideaki Sorachi. Bahkan caranya membuka kisah pun sama, yakni menggunakan lelucon meta di mana lambang Warner Bros. Pictures muncul berulang kali. Saya tak merasa perlu menjelaskan detail formulanya. Cukup baca review film pertama di sini, alasannya ialah keduanya sama persis.

Tapi apakah filmnya menyenangkan? Sebenarnya ya, lumayan. Khususnya di aspek komedi yang tidak punya sense of timing. Fukuda melempar absurditas komikal hampir di tiap situasi yang memungkinkan, dengan seluruhnya dihantarkan pada volume tertinggi. Tidak ada komedi sederhana. Semua besar, konyol, berisik, dan tentunya bodoh. Efektivitasnya patut dipertanyakan, namun tiap kali melibatkan pertemuan Gintoki (Shun Oguri), Shinpachi (Masaki Suda), dan Kagura (Kanna Hashimoto) dengan Tokugawa Shige Shige alias Dai Shogun (Ryo Katsuji) yang kebetulan selalu mengakibatkan kawasan ketiganya bekerja paruh waktu sebagai lahan “blusukan”, tawa berhasil dihasilkan.

Pada momen-momen tersebut, kalau anda termasuk golongan awam menyerupai saya alias belum merasakan bahan asalnya, entah manga atau anime, anda bakal menemukan beberapa humor tampil dengan kreativitas tinggi yang mengejutkan. Beberapa reference jokes masih tersempil, tapi kadarnya bersahabat, takkan membuat penonton umum kebingungan. Setidaknya anda niscaya mengenal My Neighbor Totoro, juga Shoplifters karya Hirokazu Kore-eda jikalau termasuk penggemar film.

Serupa pendahulunya, butuh waktu sampai filmnya memasuki kisah utama, sehabis mengisi 30 menit pertama dengan lawakan skema demi sketsa. Ironisnya, begitu konflik besar mulai dipresentasikan, filmnya terjun bebas. Rupanya kreativitas Fukuda dalam merangkai alur tak setinggi kala berkomedi. Kisahnya bertutur mengenai kembalinya Ito (Haruma Miura), anggota Shinsengumi handal yang berencana mengambil tahta kepemimpinan dari Kondo (Kankuro Nakamura). Rencananya melibatkan penanaman implan dalam badan Hijikata (Yuya Yagira), si wakil ketua, membuatnya bertingkah kolam otaku. Elemen satu ini aneh, tapi sisanya tak lebih dari kisah kudeta klise yang melibatkan konspirasi dan pengkhianatan.

Disandingkan dengan film pertama, alurnya tampak inferior dengan kegagalan memanfaatkan dunia unik miliknya, yang memasuki film kedua, semakin terlihat biasa. Benar bahwa alien berjalan di sudut-sudut Edo, pula masyarakatnya menonton televisi, tapi segala pernak-pernik tersebut urung memberi imbas kepada konfliknya. Penulisan Fukuda terhadap elemen yang lebih serius pun datar bagai kekurangan energi. Kita mendengar tokoh-tokohnya bicara soal konspirasi politik dengan cara serta pilihan kata membosankan. Pun selipan unsur dramatik jelang tamat gagal menggaet emosi akhir terkesan hadir tiba-tiba. Tiba-tiba kita diajak mengharu biru sehabis satu jam lebih dihajar kekonyolan-kekonyolan.

Fukuda selaku penulis naskah memang lemah, untungnya selaku sutradara, ia bisa unjuk kebolehan, termasuk kepiawaiannya merangkai sekuen aksi, yang meski tak seberapa intens, mampu tampak keren dan dibarengi pula oleh musik tak kalah keren buatan Eishi Segawa. Pergerakan kameranya dinamis sebagaimana mestinya versi live action dari manga dibuat guna menangkap agresi baku hantam hiperbolis karakternya. Sekuen agresi klimaksnya berpindah mulus dari satu pertempuran ke pertempuran lain yang terjadi beriringan di bermacam-macam lokasi. Dan akhirnya, Gintoki sang protagonis menerima kesempatan unjuk gigi sehabis menghabiskan lebih banyak didominasi durasi sebagai figur komedik yang tak menghipnotis kisah utama.

Ya, film ini terhindar dari status borefest, dan kemungkinan bakal memuaskan para penggemar walau belum layak disebut “bagus”, khususnya lantaran hanya mengulangi formula film pertama dengan hasil lebih lemah. Mengusung sub-judul Rules Are Made to Be Broken, Gintama 2 justru tak cukup berani mendobrak hukum naratif.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Gintama 2: Rules Are Made To Be Broken (2018)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel