Friend Zone (2019)

Friend Zone adalah barang langka. Sebuah tontonan ringan, bahkan tampak ndeso di permukaan, namun di balik itu, sangat menghargai inteligensi penonton. Romansanya ditampilkan serta terus dibangun via momen demi momen ketimbang kalimat puitis, sedangkan motivasi karakternya ditanam kuat-kuat meski secara subtil.

Saya pernah mendengar ungkapan berbunyi, “Pasangan bisa disebut saling menyayangi jikalau sudah berani kentut di depan satu sama lain”. Palm (Naphat Siangsomboon) dan Gink (Pimchanok Leuwisetpaiboo a.k.a. Baifern) telah melangkah lebih jauh. Jangankan buang angin, Gink buang air besar di hadapan Palm dalam salah satu momen terlucu film ini, yang memproduksi salah satu kalimat terlucu tahun ini (“What’s wrong with your butthole?”).

Saya percaya ungkapan di atas. Terdengar konyol, tapi ada benarnya. Berarti keduanya merasa nyaman bersikap apa adanya. Kurang lebih begitulah korelasi Palm dan Gink, hanya saja, mereka bukan sepasang kekasih. Selama 10 tahun Palm terjebak di zona pertemanan sehabis menggali kuburnya sendiri dengan berkata bahwa ia menyayangi Gink sebagai teman.

Jadilah Palm menghabiskan satu dekade menemani Gink ke mana-mana walau tanpa status korelasi cinta, termasuk ikut mengarungi beberapa negara guna menguntit kekasih Gink, Ted (Jason Young), yang dicurigai tengah berselingkuh di tengah perjalanan bisnisnya sebagai produser musik. Kenapa Gink bertindak senekat itu seolah terobsesi pada sang kekasih? Ini bukan semata perjuangan filmnya melucu. Demi memahami itu, kita perlu kembali ke sekuen pembuka.

Semasa SMA, Gink, dengan pinjaman Palm, memergoki perselingkuhan sang ayah. Tidak usang berselang, kekasih Gink berbuat hal sama kepadanya. Merujuk pada dua kejadian tersebut, masuk akal jikalau sekarang Gink bersikap paranoid. Saya suka bagaimana naskah buatan Pattaranad Bhiboonsawade, Thodsapon Thiptinnakorn (SuckSeed, May Who?), dan sang sutradara, Chayanop Boonprakob (SuckSeed, A Gift, May Who?) urung meneriakkan alasan itu keras-keras. Bisa saja Gink tak menyadari bahwa stress berat itu memantik ketidakpercayaannya. Penonton dibiarkan melihatnya sebagai respon bawah sadar karakternya.

Kemudian Friend Zone mengajak kita mengikuti perjalanan penuh tawa kedua tokoh utama. Palm bisa menciptakan Gink tertawa guna menghapus kesedihannya, Gink berbuat banyak kebodohan yang menciptakan Palm tertawa (sambil kerepotan luar biasa), kemudian tawa tersebut bertransformasi menjadi cinta. Cinta di antara Gink dan Palm, juga saya kepada mereka.

Terasa romantis justru alasannya Friend Zone menolak berusaha secara berlebihan biar tampil romantis. Terasa romantis alasannya Friend Zone memperlihatkan dua insan yang saling bertindak selaku sumber kebahagiaan masing-masing. Terasa romantis alasannya apabila kita ditempatkan di tengah situasi serupa, besar kemungkinan kita pun akan jatuh hati.

Baik Naphat maupun Baifern sama-sama tepat melakoni tugas mereka. Dalam film yang dipenuhi humor over-the-top termasuk “momen imajinasi” dikala salah satu abjad membayangkan sedang meluapkan amarahnya terhadap abjad lain yang kerap kita saksikan di film setipe, keduanya tak pernah gagal memancing tawa lewat chemistry komikal yang menyambar sekuat petir. Tentu suplai bahan kreatif dari naskah, juga ketepatan timing dalam penyutradaraan Chayanop berperan besar, tapi tanpa Naphat dan Baifern yang tidak pernah takut mempermalukan diri sendiri di depan kamera, hati saya takkan tercuri, dan agresi saling goda yang balasannya terjadi bakal kurang menggemaskan.

Kelebihan lain Friend Zone terletak pada penggambaran Ted sebagai sosok orang ketiga. Dia laki-laki baik sekaligus bertalenta, yang dengan kerennya mampu mengatasi permasalahan rumit di proses rekaman hanya dalam hitungan menit. Melihat itu, saya pun paham mengapa Gink terpikat padanya. Sebagai pesaing cinta, Ted bukan “karakter karikatur”, dan walau Gink senantiasa menaruh curiga, benar atau tidaknya ia berselingkuh tidak bisa dipastikan sebelum filmnya mencapai paruh akhir.

Kita bisa menebak kalau Palm nantinya akan mengakui perasaannya untuk balasannya berhasil merebut hati si perempuan idaman. Tapi momen itu hadir dengan sedikit modifikasi, pula tanpa kesan terburu-buru serta simplifikasi. Semuanya mengalir penuh kesabaran guna memaksimalkan efek emosi, yang muncul sehabis Gink menyadari bahwa ada suatu “hal tertentu” (tidak bisa saya sebutkan pastinya) yang mengingatkannya kepada dua rasa berlawanan: kebahagiaan dan rasa sakit. Alhasil, gampang memahami pilihan yang balasannya ia ambil. Satu lagi kecakapan Friend Zone mempresentasikan motivasi karakternya.  

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Friend Zone (2019)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel