Foxtrot Six (2019)

Bermodalkan 70,5 miliar rupiah, atau sekitar 5 juta dollar, yang mana sedikit di atas The Raid 2: Berandal (4,5 juta dollar), ditambah keterlibatan Mario Kassar (First Blood, Total Recall, Terminator 2: Judgment Day) selaku produser eksekutif, ekspektasi terhadap Foxtrot Six untuk menjadi “blockbuster Indonesia rasa Hollywood” melambung tinggi. Dan bila salah satu pemakaian CGI tersolid di film lokal dan agresi baku hantam brutal terdengar menggiurkan, maka debut penyutradaraan Randy Korompis ini cocok untuk anda.

Berlatar tahun 2031 ketika dunia dilanda krisis pangan, dipimpin Presiden termudanya sepanjang sejarah, Indonesia siap memimpin uluran bantuan. Belum sempat terealisasi sepenuhnya, perebutan kekuasaan dilakukan oleh partai politik Piranas, yang akhirnya berkuasa dengan semena-mena. Protagonis kita yaitu Angga (Oka Antara), yang menariknya, bukan sosok hero lurus, setidaknya di paruh awal. Sebagai anggota parlemen, sang mantan marinir hidup bergelimang kemewahan sementara rakyat karam dalam kemiskinan.

Angga bahkan mengusulkan rencana menumpas habis kelompok pemberontak berjulukan “Reformasi” kepada para pejabat negara. Saya menyukai fakta bahwa jajaran pejabat tinggi itu terdiri atas empat “rubah tua” yang haus harta dan kekuasaan. Kondisi tersebut mencerminkan realita dunia masa kini, tatkala jajaran cowok berambisi membawa perubahan dengan melengserkan pemerintahan korup yang diisi generasi masa lalu.

Tapi jawaban nalar bulus Wisnu (Edward Akbar), Angga justru dianggap berkhianat, membelot untuk memihak Reformasi, dan masuk daftar atas buronan negara. Angga pun terpaksa benar-benar bergabung bersama Reformasi, yang rupanya hasil bentukan Sari (Julie Estelle), sang mantan kekasih yang ia pikir telah tiada. Tujuannya satu, merobohkan kekuasaan Piranas.

Naskah buatan Randy Korompis sayangnya lemah membangun pondasi, menghasilkan produk setengah matang yang enggan repot-repot memupuk pemahaman dan kepedulian penonton. Contohnya ketika Foxtrot Six buru-buru masuk ke tahap di mana Angga mengumpulkan regu—yang terdiri atas rekan-rekan lamanya di militer, yakni Tino (Arifin Putra), Oggi (Verdi Solaiman), Bara (Rio Dewanto), dan Ethan (Mike Lewis), ditambah Spec (Chicco Jerikho) si rekan misterius Sari—hanya sesaat sesudah ia sadar sudah dikhianati pemerintahan tempatnya setia mengabdi. Kita tidak diberi kesempatan melihat bagaimana Angga memproses insiden itu.

Pembangunan dunianya pun sama lemahnya. Foxtrot Six mendefinisikan dunianya sebagai daerah penuh kekacauan, sarat kemiskinan, juga minim harapan. Namun di beberapa titik, semuanya terlihat normal, seolah kita hanya tengah diajak berjalan-jalan mengelilingi Jakarta di hari-hari biasa. Pun sukar menelan bulat-bulat pernyataan kalau Reformasi merupakan bahaya besar ibarat yang Piranas khawatirkan, alasannya yaitu tak sekalipun dijabarkan kekacauan macam apa yang mereka picu.

Tapi bukankah kita tiba untuk melihat aksi? Di tatanan itu, Foxtrot Six bahwasanya cukup memuaskan. Koreografi isyarat Very Tri Yulisman (pemeran Baseball Bat Boy di Berandal) hanya setingkat di bawah para lulusan The Raid lain, unsur gore yang kebanyakan melibatkan agresi saling tebang dan tusuk terbukti ampuh memberi dampak, musik bombastis gubahan Rob E Powers bisa membuat intensitas (bak berteriak “Ini blockbuster, Bung!”), pun jajaran pemainnya bisa diandalkan melakoni agresi saling serang.

Oka Antara lincah menghajar musuh-musuhnya lewat bermacam-macam gerakan kompleks, sementara Rio Dewanto tepat memerankan sosok hero tabrak macho yang gres kini ia perlihatkan. Bahkan perkenalan aksara Bara merupakan salah satu momen favorit saya sepanjang film, ketika naskahnya secara kreatif menyulap panjat pinang jadi acara barbar nan brutal. Satu kekecewaan hadir lantaran sesudah penampilan badass di Berandal, Headshot, dan The Night Comes for Us, Julie Estelle tak diberi kesempatan unjuk gigi, hanya berakhir sebagai damsel in distress.

Kualitas CGI-nya mungkin masih perlu perbaikan di sana-sini, namun pemakaian seperlunya membuat sumber daya sanggup dialokasikan secara tepat. Adegan “terjun bebas” dan sebuah penghormatan dari Randy Korompis untuk momen ikonik Terminator 2: Judgment Day (andai tidak ada nama Mario Kassar mungkin saya bakal menyebut Alien 3) merupakan beberapa highlight pemaksimalan teknologi efek visualnya.

Sayang, Foxtrot Six gagal mencapai potensi tertinggi kala sering mempertontonkan kecanggungan jawaban penyuntingan Denny Rihardie yang bagai kurang daya, pula penyutradaraan Randy, yang meski mumpuni di banyak kesempatan, tak jarang melewatkan ketepatan timing, sudut kamera, atau mise en scène. Sedetik saja melewatkan timing, maupun meleset memposisikan kamera walau cuma beberapa derajat, apalagi kalau terjadi dalam momen vital (Bara menghabisi lawan menggunakan sikat gigi atau apa pun yang Angga perbuat guna meledakkan atap), maka balasannya fatal. Alhasil, biarpun menghibur, Foxtrot Six urung menjadi “The Next The Raid” ibarat keinginan banyak pihak.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Foxtrot Six (2019)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel