Anak Hoki (2019)

Kalimat epilog di review saya untuk A Man Called Ahok berbunyi, “.....tokoh ibarat Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas tidak buruk”. Mungkin suatu hari film tersebut akan datang, tapi pastinya bukan berjudul Anak Hoki, yang kualitasnya tak berlebihan bila disebut memalukan. Patut dicatat, bahwa naskah buatan Ally Alexandra, yang sebelum ini malang melintang menulis skenario sinetron, menuturkan dongeng fiksi.

Meski fiksi, penggunaan sosok aktual sebagai basis huruf mewajibkan penulis memahami dan menghargai semangat serta jiwa sosok tersebut. Saya berani bertaruh jikalau anda menyebut Basuki Tjahaja Purnama sebagai insan sempurna, salah satu pihak yang paling keras menyanggah yaitu BTP sendiri. Tapi di sini, Ahok (Kenny Austin) seolah tak punya kekurangan, rajin mengumbar petuah yang selalu jadi pemecah masalah. Kalau film ini berjudul Mario Teguh Golden Ways, saya akan maklum.

Anak Hoki dibuka lewat perkenalan pada Ahok kecil dan tiga sahabatnya, menyiratkan bahwa kisahnya bakal menyoroti masa kecil Ahok. Tapi tidak. Alurnya melompat ke beberapa tahun berselang, ketika Ahok merantau ke Jakarta guna menempuh pendidikan SMA, kemudian kuliah. Lalu apa esensi mengenalkan persahabatan empat bocah tadi? Di pertengahan durasi, Ahok mendapati salah satu sahabatnya meninggal akhir sakit. Filmnya kemudian menyuguhkan narasi berbunyi, “Selamat jalan sahabat...”, berusaha mengaduk emosi menggunakan kisah persahabatan yang bahkan tak pernah kita saksikan.

Naskahnya juga coba membuat paralel tak berkhasiat antara sobat masa kecil dan masa sekarang Ahok. Karena ternyata, di Jakarta, ia pun memiliki dua mitra pria serta satu wanita (SUNGGUH KEBETULAN YANG LUAR BINASA!). Ada Bayu (Chris Laurent) si playboy, Daniel (Lolox) yang rahasia mengambil jurusan memasak meski sang ibu (Tamara Geraldine) ingin beliau menjadi pastor, dan Eva (Nadine Waworuntu) si gadis broken home yang merupakan pujaan hati Bayu.

Harus diakui, paruh pertama Anak Hoki berjalan cukup lancar sebagai komedi-drama cukup umur yang melibatkan banyak sekali elemen familiar, sebutlah romansa dan ukiran anak dengan orang renta seputar pilihan hidup. Tidak dipaparkan mendalam pun tanpa inovasi, namun setidaknya menghibur berkat bumbu komedi. Setelah sekian lama, Lolox hasilnya bisa memancing tawa saya, lantaran kali ini ia bisa membedakan mana “lucu”, mana “menyebalkan”. Sedangkan Tamara Geraldine, walau memperoleh porsi minim, terbukti masih piawai berperilaku eksentrik.

Hingga tiba waktunya melangkah menuju ranah lebih serius, dan kecanggungan penceritaannya menguat, memancing kesan cringey tak tertahankan. Bahkan tersimpan twist menggelikan mengenai huruf Amora Rey (Maia Estianty), musisi idola Eva. Nama Amora pertama terdengar ketika Eva menyanyikan lagunya, kemudian terkejut mengetahui Bayu pun mengenal sang penyanyi. Berdasarkan keterkejutan Eva, berarti Amora bukan bintang besar, setidaknya bukan dari industri arus utama, benar begitu? Keliru! Karena berikutnya, kita melihat para penggemar dan wartawan berebut masuk ke ruang press conference sembari mengelu-elukan namanya, dalam sebuah adegan yang luar biasa cringey sampai membuat saya di dingklik penonton ikut malu.

Anak Hoki memang dipenuhi pemandangan canggung akhir pengadeganan minim kompetensi. Mengejutkan, mengingat film ini dibentuk oleh Ginanti Rona, yang mengawali karir di posisi tangan kanan sutradara dalam judul-judul macam Rumah Dara dan dwilogi The Raid, sebelum menjalani debut penyutradaraan lewat Midnight Show, sebuah slasher sarat unsur giallo. Kini saya makin khawatir terhadap nasib Lukisan Ratu Kidul (Well, it was produced by Lord KKD, so....).

Mendekati akhir, konflik yang tak pernah menjauhi tema kesalahpahaman cheesy makin dipaksa masuk. Bisa ditebak, segala problematika itu tuntas sekalinya Ahok melontarkan kalimat bijak. Ahok dengan semangat membara yang dicintai banyak orang tak nampak, digantikan cukup umur abnormal pemalu, kaku, pula tertutup, yang dibawakan dengan membosankan oleh Kenny Austin. Mungkin bagi Kenny, satu-satunya ciri penting Ahok hanya postur bungkuknya. Hal itu turut menggambarkan keseluruhan Anak Hoki, yang hanya menggambarkan fisik Ahok, namun tidak jiwanya.

“Tapi film ini kan fiksi dan tak sekalipun menyebut nama Basuki Tjahaja Purnama, jadi masuk akal kalau punya karakterisasi berbeda.” Andai ada yang mengajukan pernyataan serupa, yakinlah bahwa kasta orang itu setinggi Tuan Besar Dheeraj Kalwani.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Anak Hoki (2019)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel