11:11: Apa Yang Kamu Lihat? (2019)

Begitu jelek dan membosankan 11:11: Apa yang Kau Lihat?, hampir sepanjang durasi aku bermain “memirip-miripkan”. Twindy Rarasati menyerupai Prisia Nasution, Rendy Kjaernett menyerupai versi lebih ganteng dari Dian Sidik, Bayu Anggara dan Ge Pamungkas bagai pinang dibelah dua, sementara Fauzan Smith mengingatkan aku kepada Fauzi Baadilla. Well, yang terakhir mungkin agak dipaksakan.

Keisengan itu jauh lebih menghibur ketimbang berusaha mencerna horor ndeso nan melelahkan, yang bahkan tak mau repot-repot menjelaskan signifikansi “11:11” di judulnya. Debut penyutradaraan Andi Manoppo (sebelumnya dikenal sebagai pimpinan pasca produksi dalam lebih dari 70 film) ini dua kali memperlihatkan insiden mistis sempurna pada pukul 11:11 yang memang identik dengan banyak mitos, tapi kenapa itu lebih dari sekadar trivia sehingga pantas dijadikan judul?

Sementara sub judulnya malah mengajukan pertanyaan. “Apa yang kamu lihat?”. Karena karakternya tak pernah bermasalah dengan apa yang mereka lihat, aku yakin pertanyaan itu diajukan bagi penonton. Apa yang aku lihat? Jawabannya: tidak ada. Karena film ini terlampau keruh, baik gambar maupun kualitasnya secara menyeluruh.

Adegan pembukanya agak menjanjikan, lantaran bertempat di lokasi yang berbeda dibanding formasi kompatriotnya sesama horor lokal buruk. Alkisah dua laki-laki menyelam, memasuki sebuah kapal karam, mengambil suatu artefak, sebelum salah satu dari mereka ditarik oleh sosok misterius, sedangkan satunya lagi tergulung ombak raksasa. Tapi selepas memperkenalkan keempat tokoh utamanya, 11:11: Apa yang Kau Lihat? Mulai memasuki pakem klise soal perjalanan muda-mudi merambah lokasi angker.

Tiga pelatih selam, Galih (Rendy Kjaernett), Martin (Bayu Anggara), dan Ozan (Fauzan Smith), plus seorang murid baru, Vania (Twindy Rarasati) si vlogger ternama, berlibur ke pulau terpencil berjulukan Tanjung Biru. Pulau tersebut sepi. Selain keempatnya, hanya ada seorang penjaga, yang melarang mereka menginjakkan kaki ke titik berjulukan Karang Hiu. Tentu sebagai darah muda penuh rasa ingin tau (baca: bodoh), mereka menolak patuh. Tapi itu tidak pribadi terjadi.

Jadi amunisi apa yang disiapkan oleh duo penulis naskahnya, Nicholas Raven (Berangkat!) dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Jailangkung, Sakral) sebelum teror utamanya berlangsung?

Tunggu sebentar.........

DEMI SILUMAN LAUT! FILM INI DITULIS NASKAHNYA OLEH MAHAGURU BASKORO ADI WURYANTO???!!! Sekarang semuanya masuk akal! 

Pantas saja alurnya begitu kosong, hanya diisi adegan Martin dan Ozan merayu Vania ditambah selipan mimpi jelek asing Galih mengenai sang ibu (diperankan Lady Nayoan, istri Rendy Kjaernett) yang telah usang hilang. Saya merasa ndeso sebagai pecinta film lantaran gagal mengenali karya Mahaguru, padahal ciri-cirinya sudah disebar sepanjang film.

11:11: Apa yang Kau Lihat? dijual sebagai “horor lokal langka berlatar bawah laut”, tapi kualitas gambar bawah lautnya bahkan kalah jernih dibanding bumper legendaris “RCTI Oke” dari kala 90-an itu. Di sini, bahari begitu keruh, sedangkan ikan-ikan kehilangan warnanya. Hal paling menggelikan dari adegan menyelamnya yakni pemakaian audio dub yang dikemas biar terdengar seolah karakternya saling bicara melalui HT. Mungkin pembuat filmnya khawatir penonton sukar memahami bahasa non-verbal sederhana, tapi kualitas voice acting menggelikan jajaran pemainnya terang tak membantu.

Soal teror bawah laut, mungkin Andi Manoppo merasa bahwa menyuruh karakternya berenang tak tentu arah sambil meneriakkan nama satu sama lain sudah cukup menyeramkan. Bukankah mereka menggunakan HT? Kenapa tidak memberitahukan posisi dari situ? Tentu saja lantaran dub tersebut bukan merupakan rencana awal.

Begitu karakternya kembali ke permukaan, siluman bahari telah siap menebar teror, bersenjatakan desain serta metode kemunculan yang dicomot hanya dengan sekelumit modifikasi dari Lights Out. Selanjutnya, 11:11: Apa yang Kau Lihat? memasuki babak “tes daya tahan” bagi penonton. Kita diuji, seberapa jauh dapat menoleransi kebodohan filmnya, yang terbentang dari keputusan-keputusan karakternya—yang menentukan lari ke dalam hutan dan memanjat puncak tebing yang justru menambah risiko—hingga aneka macam poin alur yang patut dipertanyakan.

Mari kembali ke pertanyaan yang filmnya ajukan. Apa yang kamu lihat? Saya melihat betapa usaha industri perfilman Indonesia guna menumpas habis horor-horor inkompeten, yang membodohi penonton sekaligus digarap asal-asalan menyerupai ini, masih cukup panjang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "11:11: Apa Yang Kamu Lihat? (2019)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel